Mengenang Malcolm X, Muslim Kulit Hitam Paling Berpengaruh di Amerika Serikat
Muhajirin
Selasa, 22 Februari 2022 - 16:00 WIB
Malcolm X (foto: Britannica)
Malcolm X menjadi tokoh muslim berpengaruh di Amerika Serikat yang dianggap sebagai salah satu pemimpin gerakan hak sipil kulit hitam Afrika-Amerika. Ia dibunuh di Audubon Ballroom di New York pada Ahad, 21 Februari 1965, tiga bulan sebelum berusia 40 tahun.
Malcolm lahir Omaha, Nebraska, pada 1925 sebagai 'Malcolm Little'. Ia lahir dari seorang ayah pendeta yang mengampanyekan cita-cita nasionalis kulit hitam. Sang ayah akhirnya diyakini dibunuh secara brutal.
Malcolm bersama ibu dan saudara-saudaranya lalu dimasukan ke rumah sakit jiwa. Setelah itu, ia dikirim panti asuhan. Itu membuat Malcolm putus sekolah dan terjebak ke kehidupan kriminal. Ia terlibat perdagangan narkoba, perjudian, pemerasan, dan perampokan.
Hingga saat menginjak usia 21 tahun, ia ditangkap karena kasus pencurian dan dipenjara selama 10 tahun. Di situlah dia bertemu dengan ajaran Elijah Muhammad, pemimpin gerakan Nation of Islam.
Ia mulai belajar mandiri karena menyadari telah mengalami banyak ketertinggalan. Setiap hari dia menyalin satu halaman kamus lalu membacanya dengan nada keras. Itu memungkinkan dia memperkaya kosakata baru.
Malcolm juga menghabiskan hari-harinya di perpustakaan penjara membaca buku tentang sosiologi, biologi, biografi, sejarah, filsafat, dan sains lainnya. Ia mengetahui kekejaman yang diderita kaum kulit hitam saat diperbudak. Dia lalu menghapus nama belakangnya dan menggantinya dengan X untuk memperkuat identitas Afrika.
Setelah bebas dari penjara, ia bergabung dengan Nation of Islam di Harlem, New York. Dia langsung mengampanyekan pembebasan hak-hak Afrika-Amerika dengan cara apapun yang diperlukan.
Malcolm lahir Omaha, Nebraska, pada 1925 sebagai 'Malcolm Little'. Ia lahir dari seorang ayah pendeta yang mengampanyekan cita-cita nasionalis kulit hitam. Sang ayah akhirnya diyakini dibunuh secara brutal.
Malcolm bersama ibu dan saudara-saudaranya lalu dimasukan ke rumah sakit jiwa. Setelah itu, ia dikirim panti asuhan. Itu membuat Malcolm putus sekolah dan terjebak ke kehidupan kriminal. Ia terlibat perdagangan narkoba, perjudian, pemerasan, dan perampokan.
Hingga saat menginjak usia 21 tahun, ia ditangkap karena kasus pencurian dan dipenjara selama 10 tahun. Di situlah dia bertemu dengan ajaran Elijah Muhammad, pemimpin gerakan Nation of Islam.
Ia mulai belajar mandiri karena menyadari telah mengalami banyak ketertinggalan. Setiap hari dia menyalin satu halaman kamus lalu membacanya dengan nada keras. Itu memungkinkan dia memperkaya kosakata baru.
Malcolm juga menghabiskan hari-harinya di perpustakaan penjara membaca buku tentang sosiologi, biologi, biografi, sejarah, filsafat, dan sains lainnya. Ia mengetahui kekejaman yang diderita kaum kulit hitam saat diperbudak. Dia lalu menghapus nama belakangnya dan menggantinya dengan X untuk memperkuat identitas Afrika.
Setelah bebas dari penjara, ia bergabung dengan Nation of Islam di Harlem, New York. Dia langsung mengampanyekan pembebasan hak-hak Afrika-Amerika dengan cara apapun yang diperlukan.