Saat China Kirim Mahasiswa ke Al-Azhar
Muhajirin
Rabu, 23 Februari 2022 - 22:02 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Pada 1930-an, terdapat 35 mahasiswa muslim dari China datang belajar di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Kelak mereka ditakdirkan memainkan peran penting dalam sejarah Islam China modern.
Mahasiswa ini membantu China membangun hubungan dengan Mesir dan negara-negara muslim di Timur Tengah. Mereka juga meninggalkan warisan budaya yang cukup besar, seperti terjemahan teks-teks penting dari tradisi Islam dan China.
Saat kembali ke Tiongkok, banyak dari mereka yang menjadi pemimpin intelektual dan politik komunitas Hui. Peran itu mereka mainkan di Tiongkok daratan dan Taiwan setelah pembentukan dua negara Tiongkok pada 1949.
Baik Republik Tiongkok maupun Republik Rakyat Cina memanfaatkan alumni Al-Azhar itu dalam tujuan diplomasi. Namun terlepas dari kewarganegaraan mereka pasca-1949, mereka tetap setiap membawa misi dakwah Islam.
Mereka menjadikan ajaran Islam untuk mendamaikan komponen Islam dan Cina dari identitas Hui dan menggunakan sumber daya dari kedua peradaban untuk kepentingan seluruh negara-bangsa Cina.
Perintis Yunnan
Ma Dexin (1794-1874), sarjana Islam terkenal dari Yunnan pernah mengunjungi Al-Azhar dan belajar di sana. Dia mencatat kunjungan itu dalam buku karyanya,Record of the Ziarah Journey (Chaojin Tuji).
Mahasiswa ini membantu China membangun hubungan dengan Mesir dan negara-negara muslim di Timur Tengah. Mereka juga meninggalkan warisan budaya yang cukup besar, seperti terjemahan teks-teks penting dari tradisi Islam dan China.
Saat kembali ke Tiongkok, banyak dari mereka yang menjadi pemimpin intelektual dan politik komunitas Hui. Peran itu mereka mainkan di Tiongkok daratan dan Taiwan setelah pembentukan dua negara Tiongkok pada 1949.
Baik Republik Tiongkok maupun Republik Rakyat Cina memanfaatkan alumni Al-Azhar itu dalam tujuan diplomasi. Namun terlepas dari kewarganegaraan mereka pasca-1949, mereka tetap setiap membawa misi dakwah Islam.
Mereka menjadikan ajaran Islam untuk mendamaikan komponen Islam dan Cina dari identitas Hui dan menggunakan sumber daya dari kedua peradaban untuk kepentingan seluruh negara-bangsa Cina.
Perintis Yunnan
Ma Dexin (1794-1874), sarjana Islam terkenal dari Yunnan pernah mengunjungi Al-Azhar dan belajar di sana. Dia mencatat kunjungan itu dalam buku karyanya,Record of the Ziarah Journey (Chaojin Tuji).