Dicemooh karena Usaha Arang Batok, Pria Ini Buktikan Bisnisnya Kini Diekspor ke 8 Negara
Mahmuda attar hussein
Selasa, 27 Juli 2021 - 01:03 WIB
Produk briket yang dihasilkan Rinaldo Asril yang dipasarkan ke berbagai negara. Foto: Instagram @cococharcoalbriquette
Bisnis arang batok bagi sebagian orang bukan usaha yang menjanjikan. Selain proses pembuatannya yang berat, membuat arang batok harus siap-siap bermandikan asap. Berkeringat dan penuh kotoran. Termasuk jenis pekerjaan yang dihindari.
Tapi bagi Rinaldo Asril, Founder Coco Charcoal Briquettes, arang batok bak sebongkah berlian. Arang batok memiliki nilai yang fantastis di matanya. Bagaimana tidak, dari usaha arang batok yang diprosesnya menjadi arang briket, kini produknya dinantikan oleh konsumen pasar luar negeri.
Memulai usaha sejak September 2016, Rinaldo saat itu hanya menjual arang batok kelapa dan menyuplai kebutuhan arang batok kelapa ke perusahaan eksportir Korea yang mengirimkan produk arang ke Jerman, Prancis, dan Inggris.
“Dari situ saya terinspirasi untuk menjadi salah satu eksportir Indonesia yang ulung. Saya pikir usaha ini bisa memajukan ekonomi kerakyatan, karena di daerah banyak sekali arang batok yang belum terpakai. Jadi lebih banyak tidak ada nilainya,” ujarnya dikanal Youtube Punca Media.
Melihat ada peluang,Asril kemudian berusahameningkatkan nilai tambah arang batok yang diprosesnya menjadi arang briket. Tadinya, zero value menjadi added value. Ia dimudahkanbahan arang batok melimpah di daerahnya. Sesuatu yang bernilai untuknya, tapi bagi orang lain dianggap limbah.
Rinaldo mengubah limbah menjadi berkah. Limbah yang memberikan berkah itu bisa dibagikan manfaatnya kepada masyarakat sekitar untuk diserap menjadi tenaga kerja.
“Saya ingin menyerap banyak tenaga kerja, karena di daerah banyak arang batok yang tidak terpakai, dan banyak juga tenaga kerja yang belum terserap. Jadi dengan membuka usaha ini bisa membuka lapangan kerja. Saat ini saya sudah memanage lima perusahaan pabrik briket di Indonesia,” jelasnya.
Tapi bagi Rinaldo Asril, Founder Coco Charcoal Briquettes, arang batok bak sebongkah berlian. Arang batok memiliki nilai yang fantastis di matanya. Bagaimana tidak, dari usaha arang batok yang diprosesnya menjadi arang briket, kini produknya dinantikan oleh konsumen pasar luar negeri.
Memulai usaha sejak September 2016, Rinaldo saat itu hanya menjual arang batok kelapa dan menyuplai kebutuhan arang batok kelapa ke perusahaan eksportir Korea yang mengirimkan produk arang ke Jerman, Prancis, dan Inggris.
“Dari situ saya terinspirasi untuk menjadi salah satu eksportir Indonesia yang ulung. Saya pikir usaha ini bisa memajukan ekonomi kerakyatan, karena di daerah banyak sekali arang batok yang belum terpakai. Jadi lebih banyak tidak ada nilainya,” ujarnya dikanal Youtube Punca Media.
Melihat ada peluang,Asril kemudian berusahameningkatkan nilai tambah arang batok yang diprosesnya menjadi arang briket. Tadinya, zero value menjadi added value. Ia dimudahkanbahan arang batok melimpah di daerahnya. Sesuatu yang bernilai untuknya, tapi bagi orang lain dianggap limbah.
Rinaldo mengubah limbah menjadi berkah. Limbah yang memberikan berkah itu bisa dibagikan manfaatnya kepada masyarakat sekitar untuk diserap menjadi tenaga kerja.
“Saya ingin menyerap banyak tenaga kerja, karena di daerah banyak arang batok yang tidak terpakai, dan banyak juga tenaga kerja yang belum terserap. Jadi dengan membuka usaha ini bisa membuka lapangan kerja. Saat ini saya sudah memanage lima perusahaan pabrik briket di Indonesia,” jelasnya.