LANGIT7.ID, Jakarta - Bisnis arang batok bagi sebagian orang bukan usaha yang menjanjikan. Selain proses pembuatannya yang berat, membuat arang batok harus siap-siap bermandikan asap. Berkeringat dan penuh kotoran. Termasuk jenis pekerjaan yang dihindari.
Tapi bagi Rinaldo Asril, Founder Coco Charcoal Briquettes, arang batok bak sebongkah berlian. Arang batok memiliki nilai yang fantastis di matanya. Bagaimana tidak, dari usaha arang batok yang diprosesnya menjadi arang briket, kini produknya dinantikan oleh konsumen pasar luar negeri.
Memulai usaha sejak September 2016, Rinaldo saat itu hanya menjual arang batok kelapa dan menyuplai kebutuhan arang batok kelapa ke perusahaan eksportir Korea yang mengirimkan produk arang ke Jerman, Prancis, dan Inggris.
“Dari situ saya terinspirasi untuk menjadi salah satu eksportir Indonesia yang ulung. Saya pikir usaha ini bisa memajukan ekonomi kerakyatan, karena di daerah banyak sekali arang batok yang belum terpakai. Jadi lebih banyak tidak ada nilainya,” ujarnya dikanal Youtube Punca Media.
Melihat ada peluang, Asril kemudian berusaha meningkatkan nilai tambah arang batok yang diprosesnya menjadi arang briket. Tadinya,
zero value menjadi
added value. Ia dimudahkan bahan arang batok melimpah di daerahnya. Sesuatu yang bernilai untuknya, tapi bagi orang lain dianggap limbah.
Rinaldo mengubah limbah menjadi berkah. Limbah yang memberikan berkah itu bisa dibagikan manfaatnya kepada masyarakat sekitar untuk diserap menjadi tenaga kerja.
“Saya ingin menyerap banyak tenaga kerja, karena di daerah banyak arang batok yang tidak terpakai, dan banyak juga tenaga kerja yang belum terserap. Jadi dengan membuka usaha ini bisa membuka lapangan kerja. Saat ini saya sudah memanage lima perusahaan pabrik briket di Indonesia,” jelasnya.
Arang briket produksi Asril ini telah mencapai pasar internasional. Setidaknya, ia telah memasarkan produknya ke berbagai negara, seperti Arab Saudi, Inggris, Jerman dan Korea Selatan.
“Keunggulan arang briket ini tidak hanya untuk masak, tapi juga bisa digunakan sebagai penghangat ruangan seperti di Korea Selatan dan Arab Saudi ketika musim dingin. Mereka membutuhkan arang briket, karena lebih murah dan ramah lingkungan, dengan memakai arang briket ini bisa menggantikan bahan bakar untuk masa depan yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Sebelumnya, Rinaldo memiliki pengalaman kerja yang tidak bisa dianggap remeh. Ia sempat bekerja di perusahaan tambang dan perbankan. Namun setelah 18 tahun mengabdi sebagai karyawan, hasratnya untuk keluar dari zona nyaman muncul, memutuskannya untuk mundur dan menjadi wirausaha.
Ia mengawali usahanya dengan menjadi reseller untuk pembeli dari luar negeri. Penghasilan yang ia kumpulkan selama bekerja di perusahaan dijadikan modal usaha. Awal berusaha, ia banyak terlibat kegiatan operasional pabriknya sendiri. Mengantarkan sendiri kepada pembeli, seperti ke restroran dan cafe.
“Sampai saya dikenal pembeli dari luar negeri, saat itu saya bertemu pembeli dari Inggris, Jerman, Korea Selatan, Jeddah dan lainnya. Mereka minta untuk dibuatkan arang briket supaya bisa memenuhi kebutuhan arang briket di luar negeri,” ujarnya.
Satu waktu, Asril bertemu dengan rekan kerjanya saat bekerja diperusahaan. Kawan lama itu, sempat berujar dan menilai usaha arang briketnya tidak memiliki potensi tinggi. Mereka heran, Rinaldo yang memiliki pengalaman kerja mumpuni beralih profesi menjadi pengusaha arang.
“Mereka bilang usaha arang briket ini usaha yang tidak berbobot, saya dipandang sebelah mata, dan menganggap pasar arang ini terlalu murah dan kurang berkelas. Padahal usaha ini sangat menjanjikan, dan kebutuhan dunia ini banyak untuk arang briket. Sejauh ini saya sudah ekspor ke 8 negara,” katanya.
Menurut Asril, menjadi wirausawan merupakan pilihan yang baik, apalagi untuk memajukan struktur perekonomian ke depan. Saat ini produksi dunia akan arang briket baru memenuhi sekitar 25 persen dari total kebutuhan.
“Jadi sekitar 75 persen masih belum terpenuhi. Indonesia merupakan salah satu produsen arang briket terbaik di dunia, setidaknya sekitar 60 persen arang briket Indonesia sudah diproduksi untuk kebutuhan dunia, nama Indonesia cukup harum di luar sana,” imbuhnya.
(zul)