5 Tema Khutbah Jumat tentang Adzan dan Adab Syiar Islam
Fajar adhitya
Kamis, 24 Februari 2022 - 20:15 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
Pemerintah berupaya menertibkan penggunaan pengeras suara di masjid dan mushala dengan menerbitkan edaran Menteri Agama SE Nomor 5 tahun 2022. Namun, langkah tersebut terancam kontraproduktif dengan pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menganalogikan gemuruh adzan dengan gonggongan anjing.
Adab adzan, berdoa, dan dzikir adalah hal yang sering luput dari perhatian umat Islam. Sebagian besar memandang ramainya gema adzan, dzikir lewat pengeras suara dan sebagainya merupakan pertanda hidupnya syiar Islam.
Pada sisi lain, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara terdapat jutaan warga lainnya yang memeluk agama lain, setidaknya lima agama resmi. Khatib Jumat hendaknya memperkuat edukasi pentingnya menjaga keharmonisan beragama.
Berikut llima tema khutbah Jumat yang dapat dibawakan soal adzan dan adab syiar Islam oleh khatib:
1. Sejarah adzan
Khatib dapat membawakan materi sejarah adzan sebagai syiar Islam pada masa Rasulullah. Saat umat Islam mulai meningkat di Madinah, Rasulullah berkeinginan ada sebuah penanda yang dapat menyeru masyarakat segera melaksanakan shalat.
Rasulullah menghendaki seruan shalat dapat didengar oleh masyarakat yang jauh dari masjid. Sejumlah sahabat memberikan ide agar penanda waktu shalat menggunakan lonceng, terompet, dan menyalakan api.
Adab adzan, berdoa, dan dzikir adalah hal yang sering luput dari perhatian umat Islam. Sebagian besar memandang ramainya gema adzan, dzikir lewat pengeras suara dan sebagainya merupakan pertanda hidupnya syiar Islam.
Pada sisi lain, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara terdapat jutaan warga lainnya yang memeluk agama lain, setidaknya lima agama resmi. Khatib Jumat hendaknya memperkuat edukasi pentingnya menjaga keharmonisan beragama.
Berikut llima tema khutbah Jumat yang dapat dibawakan soal adzan dan adab syiar Islam oleh khatib:
1. Sejarah adzan
Khatib dapat membawakan materi sejarah adzan sebagai syiar Islam pada masa Rasulullah. Saat umat Islam mulai meningkat di Madinah, Rasulullah berkeinginan ada sebuah penanda yang dapat menyeru masyarakat segera melaksanakan shalat.
Rasulullah menghendaki seruan shalat dapat didengar oleh masyarakat yang jauh dari masjid. Sejumlah sahabat memberikan ide agar penanda waktu shalat menggunakan lonceng, terompet, dan menyalakan api.