home masjid

Masjid Biru Rusia: Gudang Senjata Perang Dunia II yang Dipugar Sukarno

Rabu, 02 Maret 2022 - 07:00 WIB
Saat melintasi jembatan Troitskiy yang berdiri di atas Sungai Neva, pandangan Bung Karno tertuju pada bangunan berbentuk masjid yang berada di kejauhan. Foto: Istimewa.
Indonesia memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Rusia sejak masa kepresidenan Sukarno. Selain membuka hubungan resmi antara dua negara, kunjungan proklamator RI ke Rusia pada 1956 mewariskan nama besar pada simbol peradaban Islam di Sankt Peterburg.

Nama Sukarno menjadi sinonim Masjid Besar Saint Petersburg setelah ia menginisiasi upaya restorasi gudang senjata yang berlokasi di Kronverkskiy Prospekt, 7. Syahdan, pada 1956 dalam kunjungannya ke Rusia, Sukarno bertandang ke Leningard, nama Sankt Peterburg kala itu.

Kota pelabuhan yang terletak di tepi Sungai Neva dan Teluk Finskiy memang terkenal dengan kecantikan arsitektur bangunannya. Sebut saja Istana Musim Panas Petergof, Istana Musim Dingin Hermitage, serta Benteng Petropavlovskaya.

Baca Juga:Jusuf Kalla: Muslim Indonesia Harus Contoh Fungsi Masjid di Zaman Nabi

Saat melintasi jembatan Troitskiy yang berdiri di atas Sungai Neva, pandangan Bung Karno tertuju pada bangunan berbentuk masjid yang berada di kejauhan. Gedung itu berkubah biru dengan gaya arsitektur Asia Tengah.

Dua menaranya menjulang tinggi beradu gagah dengan beberapa gereja di sekitarnya. Dalam pikirannya, jika bangunan itu sebuah masjid, harusnya ia mampu menampung lebih dari 3.000 jamaah.

Perkiraan Bung Karno tepat, selama Perang Dunia II, pemerintah Uni Soviet mengubah masjid dan gereja menjadi gudang dan aneka fungsi lainnya. Sukarno mengajak rombongannya meninjau bangunan berkubah biru itu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
arsitektur masjid presiden pertama soekarno rusia perang dunia
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya