LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Rusia sejak masa kepresidenan Sukarno. Selain membuka hubungan resmi antara dua negara, kunjungan proklamator RI ke Rusia pada 1956 mewariskan nama besar pada simbol peradaban Islam di Sankt Peterburg.
Nama Sukarno menjadi sinonim Masjid Besar Saint Petersburg setelah ia menginisiasi upaya restorasi gudang senjata yang berlokasi di Kronverkskiy Prospekt, 7. Syahdan, pada 1956 dalam kunjungannya ke Rusia, Sukarno bertandang ke Leningard, nama Sankt Peterburg kala itu.
Kota pelabuhan yang terletak di tepi Sungai Neva dan Teluk Finskiy memang terkenal dengan kecantikan arsitektur bangunannya. Sebut saja Istana Musim Panas Petergof, Istana Musim Dingin Hermitage, serta Benteng Petropavlovskaya.
Baca Juga: Jusuf Kalla: Muslim Indonesia Harus Contoh Fungsi Masjid di Zaman NabiSaat melintasi jembatan Troitskiy yang berdiri di atas Sungai Neva, pandangan Bung Karno tertuju pada bangunan berbentuk masjid yang berada di kejauhan. Gedung itu berkubah biru dengan gaya arsitektur Asia Tengah.
Dua menaranya menjulang tinggi beradu gagah dengan beberapa gereja di sekitarnya. Dalam pikirannya, jika bangunan itu sebuah masjid, harusnya ia mampu menampung lebih dari 3.000 jamaah.
Perkiraan Bung Karno tepat, selama Perang Dunia II, pemerintah Uni Soviet mengubah masjid dan gereja menjadi gudang dan aneka fungsi lainnya. Sukarno mengajak rombongannya meninjau bangunan berkubah biru itu.
Baca Juga: Nasaruddin Umar Ungkap Peran Masjid dalam Sejarah Umat Islam“Sejumlah jadwal kunjungan Presiden Soekarno yang telah disusun ke Leningrad dibatalkan,” cerita Mufti Besar Sankt Peterburg Zhafar Ponchaev sebagaimana dituliskan Toni Lebang dalam “Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia” (2010).
Dari masjid, Bung Karno bertemu Pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev. Saat ditanya soal kunjungannya di Leningard, Sukarno menceritakan kondisi Masjid Besar Saint Petersburg yang ia kunjungi.
“Sukarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya. Hanya 10 hari setelah kunjungan Presiden Sukarno, bangunan ini kembali menjadi masjid,” kata Panchaev. Sejak itulah Masjid Saint Petersburg dikenal sebagai Masjid Sukarno.
Baca Juga: Wawancara Pakar: Umat Jangan Terpancing Sentimen Islam di Konflik Rusia-Ukraina(zhd)