Ibnu Hajar al-Asqalani, Ulama Yatim Piatu dengan Segudang Ilmu
Mahmuda attar hussein
Kamis, 10 Maret 2022 - 14:25 WIB
Ilustrasi ulama di masa dahulu. (Foto: NU Online).
Ibnu Hajar al-Asqalani, begitulah namanya dikenal banyak orang. Dia merupakan ulama yang masyhur, berkat kekayaan ilmunya, khususnya ilmu hadis dan fikih.
Namun siapa sangka, Ibnu Hajar al-Asqalani merupakan seorang yatim-piatu sedari kecil. Diketahui, ayahnya meninggal saat dia baru berusia empat tahun, yang kemudian disusul ibunya.
Dilansir laman resmi Nadhlatul Ulama, Ibnu Hajar al-Asqalani dilahirkan pada bulan Syakban, 773 hijriah, dan dikenal sebagai seorang faqih dan muhaddits. Ibnu Hajar al-Asqalani kecil diasuh oleh Zakiuddin Abu Bakar al-Kharubi sebagai wali sahnya.
Baca Juga:Mengenal Berke Khan, Penguasa Mongol Pertama yang Masuk Islam
Di bawah asuhan Abu Bakar al-Kharubi, dia tidak hanya dicukupi kebutuhannya secara materi, tapi juga dalam hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Setahun setelah ayahnya wafat, Abu Bakar menitipkan Ibnu Hajar pada sebuah lembaga pendidikan.
Di tempat itu dia belajar ilmu pengetahuan, dan Al-Quran menjadi pelajaran pertama yang dipelajarinya. Bahkan, semua ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran pun dia pelajari, mulai dari makharijul huruf, cara baca Quran, hingga menghafalnya.
Menginjak usia sembilan tahun, Ibnu Hajar sudah mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran dengan sempurna, di bawah bimbingan Imam Muhammad bin Abdurrazaq as-Sifthi.
Namun siapa sangka, Ibnu Hajar al-Asqalani merupakan seorang yatim-piatu sedari kecil. Diketahui, ayahnya meninggal saat dia baru berusia empat tahun, yang kemudian disusul ibunya.
Dilansir laman resmi Nadhlatul Ulama, Ibnu Hajar al-Asqalani dilahirkan pada bulan Syakban, 773 hijriah, dan dikenal sebagai seorang faqih dan muhaddits. Ibnu Hajar al-Asqalani kecil diasuh oleh Zakiuddin Abu Bakar al-Kharubi sebagai wali sahnya.
Baca Juga:Mengenal Berke Khan, Penguasa Mongol Pertama yang Masuk Islam
Di bawah asuhan Abu Bakar al-Kharubi, dia tidak hanya dicukupi kebutuhannya secara materi, tapi juga dalam hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Setahun setelah ayahnya wafat, Abu Bakar menitipkan Ibnu Hajar pada sebuah lembaga pendidikan.
Di tempat itu dia belajar ilmu pengetahuan, dan Al-Quran menjadi pelajaran pertama yang dipelajarinya. Bahkan, semua ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran pun dia pelajari, mulai dari makharijul huruf, cara baca Quran, hingga menghafalnya.
Menginjak usia sembilan tahun, Ibnu Hajar sudah mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran dengan sempurna, di bawah bimbingan Imam Muhammad bin Abdurrazaq as-Sifthi.