Solusi saat Pandemi Covid-19, Masjid Baitussalam Jadikan Atap Lahan Pertanian
Fajar adhitya
Selasa, 27 Juli 2021 - 22:30 WIB
Lahan pertanian di Masjid Baitussalam Taman Sari. (Foto: Langit7.id/Suandri).
Masjid bisa menjadi solusi ketahanan pangan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan pengurus Masjid Baitussalam, Taman Sari, Jakarta Barat.
Pengurus masjid memanfaatkan atap untuk bercocok tanam. Hasil bertani hidroponik tidak hanya menutup biaya operasional, tetapi membantu warga yang juga kehilangan pekerjaan.
Program Urban Farming Masjid Baitussalam ini berjalan sejak April tahun lalu. Saat panen perdananya, pertanian masjid ini mampu menghasilkan hingga 30 kilogram sayur-mayur yang terdiri dari kangkung, caisim, dan pakcoy.
Ketua MB Farm, Sofyan menceritakan, ide ini muncul untuk merespons krisis pangan dan pekerjaan masyarakat akibat pandemi Covid-19. Gagasan bertani pun dikemukakan ke DKM dan mendapat dukungan penuh pemerintah.
Pada awalnya, pengurus masjid bertani menggunakan medium tanah, tapi hasilnya tak maksimal. Lalu diundanglah mahasiswa dari Institute Teknologi Bandung (ITB) dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta sebagai pengarah untuk menjabarkan bagaimana bertani menggunakan teknik modern.
Jadilah pengurus masjid menerapkan teknik hidroponik untuk menanam sayur-mayur. Seiring perjalanan, para petani masjid juga mempelajari trik berkebun hidroponik di Youtube dan website-website.
Dua pekan sekali, MB Farm bisa memanen sekitar 10-20 paket sayuran organik. Mereka akan menjual paket-paket ini masing-masing Rp10 ribu kepada masyarakat sekitar masjid. Penjualan hasil panen ternyata bisa menutup biaya operasional seperti listrik dan air serta keamanan masjid.
Pengurus masjid memanfaatkan atap untuk bercocok tanam. Hasil bertani hidroponik tidak hanya menutup biaya operasional, tetapi membantu warga yang juga kehilangan pekerjaan.
Program Urban Farming Masjid Baitussalam ini berjalan sejak April tahun lalu. Saat panen perdananya, pertanian masjid ini mampu menghasilkan hingga 30 kilogram sayur-mayur yang terdiri dari kangkung, caisim, dan pakcoy.
Ketua MB Farm, Sofyan menceritakan, ide ini muncul untuk merespons krisis pangan dan pekerjaan masyarakat akibat pandemi Covid-19. Gagasan bertani pun dikemukakan ke DKM dan mendapat dukungan penuh pemerintah.
Pada awalnya, pengurus masjid bertani menggunakan medium tanah, tapi hasilnya tak maksimal. Lalu diundanglah mahasiswa dari Institute Teknologi Bandung (ITB) dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta sebagai pengarah untuk menjabarkan bagaimana bertani menggunakan teknik modern.
Jadilah pengurus masjid menerapkan teknik hidroponik untuk menanam sayur-mayur. Seiring perjalanan, para petani masjid juga mempelajari trik berkebun hidroponik di Youtube dan website-website.
Dua pekan sekali, MB Farm bisa memanen sekitar 10-20 paket sayuran organik. Mereka akan menjual paket-paket ini masing-masing Rp10 ribu kepada masyarakat sekitar masjid. Penjualan hasil panen ternyata bisa menutup biaya operasional seperti listrik dan air serta keamanan masjid.