Ada Beban Fisik, Atlet Miliki Risiko Cedera
Fifiyanti Abdurahman
Kamis, 24 Maret 2022 - 16:12 WIB
Ilustrasi dokter spesialis olahraga tengah melakukan terapi pada atlet yang mengalami cedera. Foto: Langit7/iStock
Pebalap Marc Marquez mengalami kejadian nahas jelang balapan MotoGP Mandalika 2022. Kecelakaan tersebut terjadi ketika sesi pemasan yang digelar pada Minggu (20/3/2022). Kecelakaan tersebut membuat pebalap 29 tahun itu terpelanting dari motor hingga mengakibatkan gegar otak.
Spesialis kedokteran olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO mengatakan setiap atlet memiliki risiko cedera, karena mereka melakukan latihan setiap hari sehingga akan tercipta stres secara fisik.
"Artinya, latihan tersebut ada pembebanan secara fisik, otot dan lainnya. Sehingga risiko cedera itu pasti ada," ujar dr Andi kepada Langit7, Kamis (24/3/2022).
Baca juga: Cedera Betis Kanan, Apriyani Rahayu Batal Ikut Swiss Terbuka
Menurut dokter yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini, ketika seorang atlet mengalami cedera maka mengatasinya dengan melihat dari tujuannya.
"Tujuannya itu mereka harus bisa bermain kembali dengan performa awal yang dimilikinya. Misal, jika seorang pemain bola bisa memberikan gol 10 sebelumnya, besoknya, ketika usia cedera dan selesai pemulihan maka ia juga bisa memberikan gol 10 atau bahkan 12," ucapnya.
"Jangan sampai, ketika usai cedera mereka tetap bisa bermain kembali tetapi performanya jadi jelek. Jadi, goalnya atlet setelah cedera itu adalah bisa kembali bermain dan kembali ke performa awal," lanjut Andi.
Spesialis kedokteran olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO mengatakan setiap atlet memiliki risiko cedera, karena mereka melakukan latihan setiap hari sehingga akan tercipta stres secara fisik.
"Artinya, latihan tersebut ada pembebanan secara fisik, otot dan lainnya. Sehingga risiko cedera itu pasti ada," ujar dr Andi kepada Langit7, Kamis (24/3/2022).
Baca juga: Cedera Betis Kanan, Apriyani Rahayu Batal Ikut Swiss Terbuka
Menurut dokter yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini, ketika seorang atlet mengalami cedera maka mengatasinya dengan melihat dari tujuannya.
"Tujuannya itu mereka harus bisa bermain kembali dengan performa awal yang dimilikinya. Misal, jika seorang pemain bola bisa memberikan gol 10 sebelumnya, besoknya, ketika usia cedera dan selesai pemulihan maka ia juga bisa memberikan gol 10 atau bahkan 12," ucapnya.
"Jangan sampai, ketika usai cedera mereka tetap bisa bermain kembali tetapi performanya jadi jelek. Jadi, goalnya atlet setelah cedera itu adalah bisa kembali bermain dan kembali ke performa awal," lanjut Andi.