LANGIT7.ID - , Jakarta - Pebalap Marc Marquez mengalami kejadian nahas jelang balapan MotoGP Mandalika 2022. Kecelakaan tersebut terjadi ketika sesi pemasan yang digelar pada Minggu (20/3/2022). Kecelakaan tersebut membuat pebalap 29 tahun itu terpelanting dari motor hingga mengakibatkan gegar otak.
Spesialis kedokteran olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO mengatakan setiap atlet memiliki risiko cedera, karena mereka melakukan latihan setiap hari sehingga akan tercipta stres secara fisik.
"Artinya, latihan tersebut ada pembebanan secara fisik, otot dan lainnya. Sehingga risiko cedera itu pasti ada," ujar dr Andi kepada Langit7, Kamis (24/3/2022).
Baca juga: Cedera Betis Kanan, Apriyani Rahayu Batal Ikut Swiss TerbukaMenurut dokter yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini, ketika seorang atlet mengalami cedera maka mengatasinya dengan melihat dari tujuannya.
"Tujuannya itu mereka harus bisa bermain kembali dengan performa awal yang dimilikinya. Misal, jika seorang pemain bola bisa memberikan gol 10 sebelumnya, besoknya, ketika usia cedera dan selesai pemulihan maka ia juga bisa memberikan gol 10 atau bahkan 12," ucapnya.
"Jangan sampai, ketika usai cedera mereka tetap bisa bermain kembali tetapi performanya jadi jelek. Jadi, goalnya atlet setelah cedera itu adalah bisa kembali bermain dan kembali ke performa awal," lanjut Andi.
Saat seorang atlet mengalami cedera, ia harus menjalani rehabilitasi. Tahapannya, pertama diagnosa yang ditegakkan harus tepat, seperti penyebab cederanya, tingkat keparahan, dan lainnya. Karena itu, dibutuhkan pemeriksaan yang detail untuk mendapatkan diagnosa.
Biasanya seorang dokter, untuk keselamatan si atlet tersebut, memberi masukan pada pelatihan bahwa atlet tersebut tidak bisa bermain dan memberikan durasi waktu untuk itu. Sehingga manajemen tim dan pelatih bisa mengatur strateginya.
"Untuk serangkaian rehabnya, harus diawasi secara detail sampai ia bisa kembali ke perfoma awal," katanya.
Lebih lanjut, apakah pola hidup berpengaruh terhadap resiko cedera pada atlet? Andi mengatakan hal tersebut sangat berpengaruh.
"Ketika kita berbicara pola hidup, berarti kita bicara pola makan, pertahanan secara mental dan juga pola tidur. Seorang atlet yang secara psikologi atau mental memiliki tekanan atau beban, tentu sangat mempengaruhi gerak dan permainannya. Sehingga atlet tersebut bisa jatuh karena kurang fokus dan lainya," pungkasnya.
Baca juga: Detoksifikasi Ponsel Jadi Cara Cegah Cedera Tulang BelakangAndi menambahkan, pola tidur yang tidak baik, misalnya seperti kurang tidur, sangat berpengaruh terhadap performa. Terlebih bagi seorang atlet. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko cedera.
"Jadi kurang tidur itu menjadi salah satu faktor atlet terkena cedera," ungkap Andi.
(est)