Dua Faktor Ini Penyebab Harga Pangan dan Energi Meningkat
Muhajirin
Jum'at, 15 April 2022 - 13:41 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Kepala Center of Digital Economy and SME’s INDEF, Eisha M Rachbini, mencatat, terdapat dua fenomena yang menyebabkan harga pangan dan energi meningkat.
Pertama, pandemi Covid-19. Corona memang sudah mereda. Namun, secara analisis perekonomian, wabah tersebut menyebabkan semua aktivitas ekonomi dan sosial berhenti. Permintaan berangsur pulih dari konsumen, namun belum disambut memadai oleh sisi supply.
“Hal itu terjadi karena kecepatan demand tidak dapat diimbangi oleh faktor produksi di industri, karena masih terhambat akibat terhentinya produksi karena pandemi,” kata Eisha dalam diskusi Continuum INDEF, Kamis (14/4/2022).
Baca juga: Gus Baha ungkap Alasan mengapa Umat Islam Harus Kaya Raya
Kedua, terjadi disrupsi supply chain. Setelah pandemi terjadi layoff shipping firm. Hal tersebut mengganggu distribusi barang di seluruh dunia. Akibatnya, supply terhambat dan tidak memenuhi permintaan pasar barang dan jasa yang mulai berangsur pulih.
Ditambah lagi, saat ini terjadi perang Rusia-Ukraina. Peristiwa itu langsung mendorong kenaikan harga minyak bumi. Di atas 100 USD Per barel. Begitu pula harga komoditas yang lain seperti CPO, Batubara, nikel, dan kakao.
“Rusia dan Ukraina adalah produsen terbesar gandum dunia, oil, metal nikel dan batubara serta bahan baku fertilizer. Perang mengakibatkan harga komoditas-komoditas penting tersebut naik tinggi,” tutur Eisha.
Pertama, pandemi Covid-19. Corona memang sudah mereda. Namun, secara analisis perekonomian, wabah tersebut menyebabkan semua aktivitas ekonomi dan sosial berhenti. Permintaan berangsur pulih dari konsumen, namun belum disambut memadai oleh sisi supply.
“Hal itu terjadi karena kecepatan demand tidak dapat diimbangi oleh faktor produksi di industri, karena masih terhambat akibat terhentinya produksi karena pandemi,” kata Eisha dalam diskusi Continuum INDEF, Kamis (14/4/2022).
Baca juga: Gus Baha ungkap Alasan mengapa Umat Islam Harus Kaya Raya
Kedua, terjadi disrupsi supply chain. Setelah pandemi terjadi layoff shipping firm. Hal tersebut mengganggu distribusi barang di seluruh dunia. Akibatnya, supply terhambat dan tidak memenuhi permintaan pasar barang dan jasa yang mulai berangsur pulih.
Ditambah lagi, saat ini terjadi perang Rusia-Ukraina. Peristiwa itu langsung mendorong kenaikan harga minyak bumi. Di atas 100 USD Per barel. Begitu pula harga komoditas yang lain seperti CPO, Batubara, nikel, dan kakao.
“Rusia dan Ukraina adalah produsen terbesar gandum dunia, oil, metal nikel dan batubara serta bahan baku fertilizer. Perang mengakibatkan harga komoditas-komoditas penting tersebut naik tinggi,” tutur Eisha.