LANGIT7.ID, Jakarta - KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) tidak mempermasalahkan jika ada orang Islam yang memilih hidup kaya raya. Pun demikian tak boleh mencela umat Islam yang memilih hidup sederhana. Dua status itu baik dan melahirkan kebaikan jika disandang oleh seorang yang shaleh.
Gus Baha mencontohkan kehidupan Imam Malik yang merupakan sosok alim namun kaya raya. Dia terbiasa dengan pakaian mewah, sorban yang menjuntai, kendaraan ganti jenis kuda dan unta mahal, serta aksesoris duniawi lain. Bahkan, saat meninggal dunia, dia mewariskan harta banyak seperti karpet, bantal bulu, dan lain-lain yang saat dijual mencapai 500 dinar.
Suatu ketika, Imam Syafi’i bertanya kepada Imam Malik perihal tentang orang-orang shaleh. Imam Syafi’i kala itu masih duduk berguru kepada Imam Malik. Sontak Imam Malik menyebut nama Imam Abu Hanifah. Hanya saja, saat itu Imam Hanafi sudah meninggal dunia.
Baca juga: Gus Baha: Bahaya Bertasawuf Jika Tidak Dibarengi FikihImam Malik lalu menyebut murid Imam Abu Hanifah yakni Muhammad bin Hasan As-Syaibani. “Ilmu-ilmu Abu Hanifah diwarisi kepada Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani’,” kata Imam Malik.
Imam Syafi’i lalu berangkat ke Irak menemui Asy-Syaibani. Saat tiba di rumah yang bersangkutan, Imam Syafi’i kaget. Dia mendapati seorang ulama kaya raya. Bahkan, kala itu Asy-Syaibani tengah sibuk menghitung uang dan emas di ruang tamu.
Imam Syafi’i merasa aneh dengan pemandangan itu. Dia menyebut ulama-ulama terdahulu memilih hidup miskin karena hisab harta sangat lama. Namun, ini berbeda dengan Asy-Syaibani.
Asy-Syaibani langsung berkata, “Kamu kagum dengan ini, kamu kagum dengan ini. Kalau ditanya orang kaya alim, ini (harta) saya kasih ke orang fasik untuk dipakai judi, curang, maksiat dan sebagainya.”
Spontan Imam Syafi’i menjawab, “Tidak, tidak, harta ini harus tetap berada di tangan orang-orang yang bertakwa. Jika jatuh ke tangan orang jahat, itu berbahaya.”
Kisah tersebut menjadi salah satu alasan umat Islam harus kaya. Kekayaan di tangan orang shalih akan dibawa kepada kebaikan. Berbeda jika berada di tangan orang jahat, pasti akan menghasilkan kejahatan pula.
“Jika menggunakan logika fikih, harta adalah fitnah. Oke, seolah-olah harta adalah masalah. Tapi Jika (harta) ini dimiliki orang tiran, maka itu akan menjadi masalah besar. Sehingga, orang alim juga harus menguasai harta,” tutur Gus Baha di kanal Dakwah Singkat, dikutip Rabu (13/4/2022).
Asy-Syaibani, Sang Ekonom MuslimMenarik mengulik sosok Asy-Syaibani. Dia memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad Jazari asy-Syaibani. Dia lahir di Wasith 132 H/748 M dan wafat pada 189 H/804 M.
Asy-Syaibani Hidup di dua masa dinasti Islam yakni pada akhir Dinasti Umayyah dan permulaan Abbasiyah. Dia terkenal sebagai seorang ekonomi muslim. Sepanjang hidupnya, dia telah menelurkan sejumlah pemikiran ekonomi Islam.
Salah satu pemikiran yang relevan dengan kisah di atas adalah pandangan Asy-Syaibani terkait kekayaan dan kefakiran. Menurut dia, walaupun telah banyak dalil yang menunjukkan keutamaan sifat-sifat kaya, sifat-sifat fakir mempunyai kedudukan yang lebih tinggi.
Baca juga: Hati-Hati Berharap Imbalan Saat Berdakwah dan MengajarDia menyatakan, jika manusia telah merasa cukup dari apa yang dibutuhkan lalu bergegas pada kebaikan, sehingga mencurahkan perhatian pada urusan akhirat. Itu lebih baik bagi mereka.
Dalam konteks ini, sifat-sifat fakir diartikan sebagai kondisi yang cukup (kifayah), bukan kondisi meminta-minta (kafafah). Dengan demikian, Asy-Syaibani menyerukan agar manusia hidup dalam kecukupan baik untuk diri sendiri bukan keluarganya.
Di sisi lain, dia berpendapat, sifat-sifat kaya berpotensi membawa pemiliknya hidup dalam kemewahan. Sekalipun begitu, dia tidak menentang gaya hidup yang lebih dari cukup selama kelebihan tersebut hanya dipergunakan untuk kebaikan.
(jqf)