Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 10 Juli 2026
home masjid detail berita

Tinjauan Syariat: Alasan Mengapa Takbir Idul Fitri Harus Disuarakan Secara Lantang di Ruang Publik

miftah yusufpati Jum'at, 13 Maret 2026 - 16:00 WIB
Tinjauan Syariat: Alasan Mengapa Takbir Idul Fitri Harus Disuarakan Secara Lantang di Ruang Publik
Mengeraskan takbir menuju tempat shalat Id adalah manifestasi dari kegembiraan yang beradab. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Saat fajar satu Syawal menyingsing, sebuah transformasi suara terjadi di jalan-jalan menuju lapangan hijau maupun masjid-masjid besar. Senyapnya subuh seketika pecah oleh resonansi kalimat pengagungan yang dilakukan secara kolektif. Bagi masyarakat awam, ini mungkin terdengar seperti keriuhan perayaan biasa. Namun, dalam timbangan syariat, tindakan mengeraskan takbir saat berangkat menuju tempat shalat Id merupakan sebuah proklamasi iman yang sangat mendasar. Ia adalah bentuk pengakuan kedaulatan Tuhan yang dilakukan di ruang publik, sebuah deklarasi bahwa setelah sebulan berperang melawan ego, hanya Allah yang layak mendapatkan predikat Maha Besar.

Dalam risalah bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, disebutkan bahwa mengeraskan suara saat bertakbir menuju tempat shalat merupakan salah satu adab yang sangat ditekankan. Tindakan ini bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan pengejawantahan dari perintah yang bersifat teologis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Dr. Ashim menjelaskan bahwa ayat ini menjadi fondasi bagi kaum muslimin untuk menyuarakan keagungan Allah secara lisan. Secara interpretatif, mengeraskan takbir di sepanjang perjalanan adalah bentuk tahadduts bin ni'mah atau menunjukkan nikmat hidayah yang telah diterima. Setelah sebulan penuh Allah memberikan bimbingan untuk menundukkan nafsu, maka sudah selayaknya lisan manusia membubung tinggi meneriakkan rasa syukur tersebut ke angkasa.

Ulama dunia seperti Imam an-Nawawi dalam Al Majmu Syarh al Muhadzdzab memberikan catatan mengenai pentingnya syiar ini. Menurut tradisi salafus shalih, para sahabat Nabi dan para tabi’in biasa keluar rumah menuju tempat shalat sambil bertakbir dengan suara yang terdengar jelas. Tujuannya adalah untuk menghidupkan suasana hari raya dan membedakannya dari hari-hari biasa. Di tengah masyarakat, gemuruh takbir ini berfungsi sebagai pengingat kolektif bahwa hari kemenangan telah tiba, sekaligus menjadi pemersatu frekuensi batin antar-sesama muslim yang berpapasan di jalan.

Menarik untuk dicermati bahwa praktik ini memiliki batasan waktu yang presisi. Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, dalam materi yang diterbitkan oleh IslamHouse, menegaskan bahwa takbir dimulai sejak keluar dari rumah dan berlanjut sepanjang perjalanan hingga imam memulai pelaksanaan shalat Id. Begitu imam berdiri untuk shalat, maka syiar suara ini harus segera diredam, berpindah dari zikir lisan menuju kekhusyukan rukun shalat.

Selain sebagai bentuk syukur, mengeraskan takbir juga mengandung dimensi pedagogis bagi lingkungan sekitar. Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Bari mengisyaratkan bahwa takbir yang disuarakan secara lantang oleh kaum pria saat menuju tempat shalat adalah bentuk penampakan izzah atau kemuliaan Islam. Ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang gembira dengan ketaatannya. Dengan bertakbir, seorang Muslim tidak hanya sedang beribadah untuk dirinya sendiri, tetapi juga sedang menyebarkan aura positif dan semangat spiritual kepada siapa pun yang mendengar suaranya.

Namun, terdapat perbedaan adab bagi kaum perempuan. Sebagian besar ulama menyarankan agar kaum perempuan tidak mengeraskan suara takbir mereka sebagaimana kaum pria, guna menjaga adab dan kesantunan sesuai prinsip syariat. Bagi pria, suara takbir yang menggelegar di jalan-jalan adalah tanda keberanian spiritual dan kebahagiaan yang meluap.

Di era modern, di mana ruang publik sering kali diisi oleh kebisingan mesin dan hiruk-pikuk aktivitas komersial, kumandang takbir manual dari lisan para jamaah yang berjalan kaki merupakan interupsi yang sangat bermakna. Ia mengembalikan kesadaran manusia pada eksistensi ketuhanan di tengah kesibukan materialistik. Takbir yang diteriakkan di sepanjang perjalanan adalah saksi bahwa setiap langkah kaki sang hamba adalah perjalanan menuju ketaatan yang lebih besar.

Sebagai simpulan, mengeraskan takbir menuju tempat shalat Id adalah manifestasi dari kegembiraan yang beradab. Ia bukan sekadar kebisingan, melainkan orkestra tauhid yang bertujuan untuk menggetarkan hati dan mensyukuri hidayah. Dengan mengikuti bimbingan Dr. Ashim Al Qaryuti dan jejak para sahabat, seorang Muslim diajak untuk tidak malu menunjukkan identitas keimanannya melalui kalimat yang paling agung: Allahu Akbar.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 10 Juli 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:55
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan