LANGIT7.ID, Jakarta - KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menekankan, sangat berbahaya belajar tasawuf tapi tidak dibarengi dengan ilmu fikih. Dia mengutip perkataan Imam Syafi’i, orang tasawuf yang tidak mengerti fikih akan menjadi kafir zindiq. Sementara ahli fikih yang tidak bertasawuf akan menjadi fasik.
Teori yang disampaikan Imam Syafi’i penting dipahami segenap umat Islam. Sebab, jika bertasawuf tidak dibarengi fikih, semua aturan agama akan diturunkan oleh keinginan menjadi wali.
Salah satu contoh penyimpangan tasawuf ini adalah para sufi tidak berbicara mengenai materi. Padahal, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berjihad menggunakan harta. Allah berfirman:
“Dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu.” (QS At-Taubah: 41).
Baca juga: Wajah Tasawuf di Muhammadiyah, Tersembunyi di Balik Tembok MegahDalam perjuangan dakwah, kata Gus Baha, materi tidak bisa dinafikan. Uang menjadi salah satu penunjang penting dalam perjalanan dakwah Islam. Demikian pula banyak ibadah yang membutuhkan materi seperti sedekah.
“Karena kita ingin menjaga fikih, kalau semua orang lebih banyak orang tasawuf. Karena Hidup itu tidak bisa kalau tidak melibatkan rezeki,” kata Gus Baha dalam salah tausiahnya di kanal
Hadrunnabi, dikutip Kamis (24/3/2022).
Imam Al-Ghazali pernah menggambarkan satu sosok sahabat nabi yang hidup beruzlah, yakni Abu Dzar Al-Ghifari. Beliau dikenal sebagai sahabat yang hidup bertasawuf sampai-sampai tidak mau mengenal khalifah.
“Saya kagum dengan Abu Dzar. Tapi tidak semua sahabat seperti itu,” kata Gus Baha. Ada banyak sahabat lain seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab, sahabat-sahabat mulia.
“Memang itu kebaikan. Karena kenal penguasa kadang membuat kita tamak atau terlalu banyak basa basi. Itu buruk,” ucap Gus Baha.
Namun yang menjadi masalah ketika semua umat Islam memilih hidup seperti itu. Maka, para penguasa akan didampingi oleh orang-orang fasik. Tentu hal itu tidak baik untuk kelangsungan dakwah Islam.
“Maka nanti orang shaleh juga disalahkan oleh Allah. Kenapa semua kebijakan fasik? Karena yang shaleh tidak mau berkontribusi,” tutur Gus Baha.
Dalam Al-Qur’an, Nabi Musa AS diceritakan mendatangi Fir’aun, penguasa Mesir kala itu. Musa datang ke istana penguasa untuk memberikan nasehat dan mengajak untuk beriman kepada Allah Ta’ala.
Baca juga: Imam Ad-Dirouty, Ulama Penjual Buah yang Lantang di Depan Penguasa“Soal Fir’aun tidak mau beriman, itu bukan urusan Musa. Tapi kan ada bukti bahwa ada orang shaleh yang bersedia mendatangi penguasa, yaitu Nabi Musa,” ucap Gus Baha.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW juga pernah mengirim surat kepada para penguasa di sekitar Madinah seperti raja Romawi dan Persia. Itu menandakan Baginda Nabi tidak menutup diri dari para penguasa. Itu menjadi salah satu contoh tasawuf dibarengi dengan fikih.
Gus Baha secara terang-terangan tidak suka dengan para sufi yang tidak mau belajar fikih. Ilmu tasawuf berkutat pada moral yang bertumpu pada pengalaman seorang hamba (batin) dalam menjalin hubungan dengan Allah.
Sementara, fikih dikenal sebagai sebagai sistem hukum yang mengatur setiap gerak laku yang dilakukan, seperti tata cara ibadah. Sehingga tampak perbedaan mendasar kedua ilmu tersebut. Maka itu, patut dicermati pentingnya penerapan kedua ilmu itu tanpa mengesampingkan salah satunya.
Ilmu tasawuf tanpa fikih tidak akan seimbang. Begitu pun sebaliknya, karena kedua ilmu saling berkaitan erat. Sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’i, tasawuf tanpa fikih berarti kafir zindiq dan fikih tanpa tasawuf akan fasik.
Dalam konteks ibadah, fikih dikenal sebagai hukum suatu ibadah seperti sah atau tidaknya gerakan shalat. Sedangkan, kesungguhan niat dan keikhlasan masuk ranah pembahasan tasawuf. Maka itu, penting menyelaraskan fikih dan tasawuf.
“Memangnya kita bisa diampuni dosa oleh Allah ketika kamu orang alim tapi tidak mengajar? Memangnya bisa diampuni Allah ketika kamu kaya tapi tidak zakat?” Ucap Gus Baha.
(jqf)