LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar ITS sekaligus pendiri Trensains, Prof. Agus Purwanto, mengaku heran dengan orang-orang yang menganggap Muhammadiyah jauh dari ajaran tasawuf.
Mayoritas masyarakat mengira di Muhammadiyah tidak ada tasawuf ataupun sufi karena terkesan megah. Jika mendengar kata Muhammadiyah, maka yang terbayang adalah kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang megah dan besar.
Begitu juga dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjulang ataupun Rumah Sakit UMM yang megah. Hampir setiap kota terdapat gedung Muhammadiyah yang berdiri gagah megah.
Baca juga: Kala Selebritas Khusyuk Mengaji Tasawuf kepada Buya ArrazySementara, persepsi orang tentang tasawuf jauh dari kemegahan. Persepsi ini benar, tetapi itu persepsi klasik. Persepsi baru dan berkemajuan, kemegahan fasilitas pelayanan umat milik Muhammadiyah adalah buah laku tasawuf, buah laku zuhud, dan cermin pemahaman sufi yang dinamis.
"Ketika bahas hidup zuhud di Muhammadiyah, contoh populernya adalah ketua umum PP Muhammadiyah terlama KH AR Fachruddin alias Pak AR. Beliau yang Ketum PP rumahnya sederhana, menerima kos dan jual bensin eceran," kata Agus melalui akun
Facebook-nya, Jumat (18/3/2022).
Padahal jika mau, Pak AR bisa meminta sedikit anggaran pembangunan salah satu Anggaran Umum Muhammadiyah (AUM), bisa dari UMY atau dari UMM. Anggaran bisa bisa dipakai membangun rumah, tapi itu tak lakukannya.
Agus lalu bercerita, dirinya bukan ketua umum PP Muhammadiyah atau ketua umum PWM. Dia hanya doktor lulusan luar negeri dan kini telah menjadi guru besar di ITS, tapi belum punya rumah.
"Mungkin satu-satunya di Muhammadiyah, upf. Maaf, maksud saya di Indonesia. Tapi aku mbangun Trensains yang rencana berdiri di atas lahan empat hektar. Sekarang sudah punya tiga hektar," kata Prof Agus.
Baca juga: Kenakalan Hamka Mengantarnya Berpetualang Hingga Jadi UlamaAwal merintis Trensains, dia melatih semua calon pengajar. Setiap pekan, dia ditemani beberapa mahasiswa berangkat ke Sragen. Dia tidak mau disangoni, diamplopi, diberi honor karena memang tidak sedang mencari nafkah melalui Trensains.
"Tetapi aku mau membangun pesantren genre baru, proyek peradaban. Pusat peradaban, yang Alhamdulillah oleh ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiah disebut sebagai ijtihad Muhammadiyah di abad keduanya," ucap Agus.
Ia tak mau dibayar. Semua mahasiswa yang diajaknya juga dia tanggung. Seandainya, lanjutnya, dia ingin diberi upah, maka dia pasti tak akan leluasa datang ke Trensains, sebab akan dicurigai sedang mencari nafkah.
"Bahwa aku tak punya rumah itu bukan masalah apalagi masalah serius. Sama sekali tidak. Alhamdulillah, Tuhan memberiku rumah dinas, meskipun demikian aku terus berfikir dan ikhtiar bagaimana meningkatkan gaji guru Trensains, tanpa harus meninggikan SPP Trensains," tutur Prof Agus.
Dia mengatakan, biaya mondok di Trensains tetap murah meriah, bahkan termurah. Dia juga bercita-cita suatu hari nanti mampu memberi beasiswa kepada santri Trensains untuk kuliah sampai S3.
Prof Agus meminta semua masyarakat membaca buku tasawuf, buku paling dasar sekalipun, tentang pengertian orang sufi. Abu Qosim al-Junaid menyatakan, tasawuf adalah penyerahan diri kepada Allah, bukan kepada yang lain.
Baca juga: Mengenal Sufi dan Tasawuf, Jalan Spiritual Abu Dzar Al-ghifari hingga Uwais Al Qarni"Tasawuf adalah yang membuat engkau mati di dalam dirimu tetapi hidup di dalam-Nya," ucapnya. Abu Ali al-Jurjani mendefinisikan sufi adalah orang yang melupakan dirinya dan hidup dalam cahaya pandang-Nya. Tasawuf adalah fana dan baqa dalam diri-Nya.
"Tasawuf Muhammadiyah mirip itu tetapi ditambah hidup dalam diri-Nya dengan membangun masa depan," tutur Prof Agus.
Maka, kata dia, dari pribadi bersahaja di Muhammadiyah atau sufi Muhammadiyah, lahir pusat peningkatan kualitas umat, kualitas kesehatannya, kualitas ekonominya, kualitas pendidikannya, kualitas sainteknya, dan kualitas agamanya.
"Agar bahagia bersama, agar mulia bersama, agar masuk surga bersama," kata Prof Agus.
(jqf)