Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home sosok muslim detail berita

Kenakalan Hamka Mengantarnya Berpetualang Hingga Jadi Ulama

Muhajirin Jum'at, 18 Februari 2022 - 13:00 WIB
Kenakalan Hamka Mengantarnya Berpetualang Hingga Jadi Ulama
LANGIT7.ID, Jakarta - Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo populer dengan nama pena Hamka. Pria kelahiran 17 Februari 1908 itu merupakan seorang ulama dan sastrawan Indonesia yang berkarir sebagai wartawan, penulis, dan pengajar.

Buya Hamka merupakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan dikenal sebagai tokoh Masyumi dan ulama Muhammadiyah. Sepanjang hidupnya, dia menjadi ulama besar yang gigih membela Islam dan sangat tegas dalam hal akidah, tanpa kompromi.

Latar Belakang Hamka

Yusuf Maulana penulis buku Buya Hamka: Ulama Umat Teladan Rakyat mengatakan, Buya Hamka merupakan anak dari seorang terpandang. Sang ayah, Abdul Karim Amrullah atau dikenal Haji Rasul, merupakan ulama terkemuka di Maninjau. Begitu pun kakek dan buyut beliau.

"Beliau memang sosok dengan latar belakang agama yang kuat dari segi pengertian tidak hanya dilihat dari sosok ayahandanya, tapi juga kakek buyutnya. Beliau sosok berlatar belakang keagamaan tradisional bercorak tarekat," kata Yusuf kepada LANGIT7.ID, Jumat (17/2/2022).

Di sisi lain, Hamka dekat dengan alam. Dia senang menghabiskan waktu di danau Maninjau. Dengan melihat pemandangan itu, ia bisa merasa lebih nyaman. Alam Maninjau ini yang membentuk worldview Hamka, sehingga ada perpaduan antara corak Islam dan kebudayaan setempat.

Terlebih, Hamka dari garis sang ibu, keluarga Safiyah, dikenal memegang erat tradisi setempat. Itu yang membuat Hamka sebelum corak pembaharuan sudah berinteraksi dengan hal-hal bersifat tradisional.

Lika-liku Masa Kecil Hamka

Hamka harus menerima kenyataan pahit saat berusia 12 tahun, yatu perceraian kedua orang tuanya. Perceraian itu membuat Hamka menjelma sebagai anak broken home. Itu wajar, ia masih membutuhkan kasih sayang sayang dari seorang ibu.

"Beliau sosok yang harus menghadapi kenyataan broken home pada usia yang kecil. Ketika beliau masih memerlukan kasih sayang seorang bunda, akibat perceraian antara Abdul Karim dengan ibunda," kata Yusuf.

Namun, pengaruh perceraian ini secara pengasuhan membentuk Hamka kecil. Terlebih ia tinggal jauh dari sang ibu. Di sisi lain, ia mesti tinggal satu atap dengan ibu tiri yang kerap membicarakan ibu kandungnya. Itu sangat membekas betul pada sosok Malik kecil.

Tapi hal menarik, menurut Yusuf, adalah stigma Hamka sebagai 'anak nakal' tidak berada pada jalur negatif. Sifat 'nakal' itu sebetulnya potensi kepintaran, kecerdikan, dan cara mencuri perhatian dari sang ayah yang sibuk berdakwah.

Malik kecil sering berulah. Ia kerap berulah dan tidak betah ketika dititipkan di surau-surau milik kolega Haji Rasul. Itu sesuatu yang tidak anek. Dalam kacamata era sekarang sekalipun.
"Di sini, terasa bahwa beliau memang anak yang sedang mencari perhatian keluarga, bukan hal aneh kalau kemudian kalau Haji Rasul tidak bisa hanya memperhatikan Malik saja, anak laki-lakinya ini, tidak bisa disalahkan, hanya pada harus memperhatikan si Malik ini, ini hal yang tidak perlu dilebih-lebihkan," kata Yusuf.

Justru, dari sifat 'nakal' itulah kehebatan Hamka terlihat. Ia tumbuh sebagai seorang anak dengan pengasuhan sangat tidak ideal justru mati sebagai salah satu sosok ulama ternama di Tanah Air.

Hamka berhasil keluar dari ruang broken home dan menjelma menjadi pribadi kuat. Ia juga keluar dari bayang-bayang nama besar sang ayah. Memang, dia tidak menjadikan nama besar sang ayah sebagai motivasi dalam belajar.

"Termasuk pergi ke Mekah pun. Dia naik haji diam-diam dengan segala upayanya, saya kira ini satu hal luar biasa," ucap Yusuf.

Saat Hamka Ditempa Ilmu Syariah dan Realitas Sosial

Hamka kecil sudah menghadapi getir perpisahan orang tuanya. Haji Rasul sebagai pendakwah kerap luput perhatian, sehingga dia anak luntang-lantung sering berpetualang. Meski begitu, ia bisa mengubah stigma bahwa anak broken home tak bisa menghasilkan buah manis.

Yusuf menilai, latar belakang masa kecil yang suram membuat keputusan Hamka tidak langsung talaqqi kepada seorang guru atau metode surau sudah tepat. Ia harus melanglang buana terlebih dahulu ke Jawa.
"Jadi, penempaan dari dunia rill yang nyata, yang membenturkan bagaimana imbas dari syariah dengan realitas sosial, ini yang tampaknya cocok dengan jiwa muda Hamka," kata Yusuf.

Di Jawa, Hamka tinggal bersama sang paman, Muhammad Ja'far di yogyakarta. Kemudian, dia mengambil kursus Syarikat Islam di daerah Pakualaman. Di tempat itu, dia bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti HOS Cokroaminoto, Suryanoto, hingga Haji Fakhruddin.

Para tokoh pergerakan itu yang mengenalkan agama sebagai sebuah etos protes, sehingga agama tidak lagi sebagai sesuatu yang sifatnya normatif. Ia tinggal di Jawa selama kurang dari 2 tahun.

Hamka pulang ke kampung halaman saat ketemu dengan sang ipar, Sutan Mansur yang menikahi Fatimah (kakak perempuan Hamka). Saat pulang kampung, pribadi Hamka sudah berbeda.

Ia ahli dalam retorika. Keahlian tersebut mendapat tempaan dari tokoh Syarikat Islam sehingga semakin terasah. Itu pula yang dilihat oleh sang ayah. Sangat brilian, hanya dalam jangka 1-2 tahun, Hamka sudah menunjukkan satu pencerahan yang jejaknya signifikan.

"Ini merupakan bentuk kesungguhan Hamka mengejar ketertinggalan, sehingga dalam waktu singkat itu beliau bisa cepat sekali. Hamka yang tidak tahu dunia pergerakan, pulang dari Jawa tampil dahsyat sebagaimana bimbingan guru-gurunya di Syarikat Islam," kata Yusuf.

Perjalanan Intelektual Hamka

Sosok Hamka tidak bisa disebut ulama yang belajar dengan otodidak. Ada fase beliau talaqqi dengan para masyaikh di Mekkah saat nekad naik haji tanpa sepengetahuan sang ayah. Ada pula fase formal dan fase banyak membaca.

Saat pulang haji, saat menginjak usia 17 tahun, Hamka mendapat bimbingan langsung dari sang ayah. Haji Rasul tak langsung mengenalkan corak-corak pemikiran Abdur Rasyid atau Al-Manar.

"Jadi, lebih kepada ulumuddin. Kalau kita merumus pada Kenang-Kenangan Hidup jilid I, ayahanda Buya Hamka memberikan catatan kelemahan putranya di mana, dan itulah kemudian diisi oleh beliau, di samping memberikan pujian kepada kelebihan Buya Hamka," kata Yusuf.

Saat di Syarikat Islam, Hamka juga intensif ikut ceramah ceramah tokoh-tokoh pergerakan. Dia ikut ceramah HS Cokroaminoto di Pekalongan. Itu yang membuat Hamka bisa belajar mandiri karena sudah mendapat bekal dasar yang membentuk pola intelektual dan membentuk garis intelijensianya.

Satu kultur Hamka yang patut dicontoh adalah open mind. Beliau memang tidak dididik atau dibentuk secara mazhabi. Ia selalu menyadari bahwa ada ruang pendapatnya benar dan kemungkinan salah.

Saat menyampaikan suatu pendapat, Hamka selalu membuka ruang diskusi kepada siapapun. Itu yang membuat dia tidak memproteksi bahwa pendapatnya paling benar. Hal itu tidak semata-mata karena nama besar Hamka, tapi karena ia mendapat berbagai pergolakan saat masih kecil dan remaja.

"Terus bagaimana ekses-ekses dari pertarungan mazhab itu sendiri, bagaimana beliau beberapa kali dicaci dengan kata kasar oleh A Hassan, meskipun secara pribadi tidak ada ada masalah. Tapi memang polemik pada masa itu sangat kasar, tapi hangat secara kepribadian," ucap Yusuf.

Hamka dikenal sebagai orang halus berkat ilmu budi atau tasawuf. Jadi, kata Yusuf, Hamka lebih melihat ke depan.

"Kalau bahasa kita mengedepankan akhlak sebelum fikih. Jadi beliau menyadari, itu bisa dilihat di tafsir Al-Azhar, beliau lebih banyak elaborasi cerita ketimbang fokus dan memutuskan hukum terkuat," kata Yusuf.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan