LANGIT7.ID, Jakarta - Niat menjadi penentu setiap amal, seperti yang termaktub dalam hadits pertama dalam Kitab Hadits Arbain karangan Imam Nawawi. Ini berlaku ke setiap muslim, dan lebih ditekankan kepada para tokoh agama maupun guru saat menyampaikan kebenaran.
Perkara niat sangat sensitif. KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengingatkan masyarakat muslim berhati-hati belajar kepada orang yang tak memiliki niat tulus hanya untuk mencari ridha Allah.
Niat seorang guru atau pun pendakwah bisa dilihat dari kalimat-kalimat yang disampaikan. Misal, seorang guru menyampaikan agar setiap orang Islam harus kaya, agar bisa dihormati oleh orang banyak.
Baca juga: Buya Yahya: Sabar Tanpa Usaha adalah Putus AsaGus Baha menekankan, tidak ada ajaran Islam yang memerintahkan setiap muslim dihormati orang. Tidak ada pula tujuan dakwah agar dipercaya oleh orang. Nabi Muhammad SAW saja banyak ditentang. Esensi dakwah adalah menyampaikan kebenaran. Sebatas itu saja.
Guru yang mengajar orang lain untuk percaya kepada dirinya perlu disikapi secara hati-hati. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menilai orang seperti itu memiliki hati busuk. Ia menjadikan ajaran agama sebagai bahan pidato sebagai bahan membuat orang percaya pada dirinya sendiri.
“Makanya, kata Sayyid Abdullah Al-Haddad, banyak orang yang sebetulnya mendakwahkan orang lain supaya mencintai dia. Tapi, dia mempromosikan dirinya seakan-akan mengajak menuju Allah,” kata Gus Baha dalam salah satu tausiahnya, yang diunggah kanal
Santri Gayeng, Senin (14/3/2022).
Memoles niat mencari keuntungan duniawi dengan narasi agama ini kerap ditemui di tengah masyarakat. Narasi yang disampaikan seolah-olah benar, namun memiliki tujuan duniawi. Misal, seorang guru mengatakan, "Orang Islam harus dibina, harus sering diadakan pengajian."
Majelis ilmu itu bagus. Namun, akan menjadi kesalahan besar jika seorang dai memanfaatkan majelis ilmu sebagai ajang mencari materi melalui amplop rupiah. Seorang dai tak sepatutnya berharap imbalan materi dari masyarakat, karena esensi dakwah adalah mengajak menuju Allah Ta’ala.
Baca juga: Amalkan Dzikir Ini, Dibaca Sekali Setara Berdzikir Semalam Penuh“Tapi kamu tidak boleh menuduh orang begitu. Dosa menuduh orang. Tapi kalau kamu tidak memilah-milah, (itu berarti) bodoh,” tutur Gus Baha.
Abdullah Al-Haddad pernah berkata, maksiat paling besar baik dzahir maupun batin adalah “Kamu berharap duniawi dari mereka, padahal mereka mencintai kamu berharap kamu tunjukkan urusan akhirat.”
“Maksiat paling besar baik dzahir maupun batin, kata Abdullah Al-Haddad, orang-orang kamu ajari, kamu berharap diberi imbalan. Padahal, mereka ngaji (belajar) kepadamu untuk mencari akhirat,” kata Gus Baha.
(jqf)