LANGIT7.ID, Jakarta - Kepala
Center of Digital Economy and SME’s INDEF, Eisha M Rachbini, mencatat, terdapat dua fenomena yang menyebabkan harga pangan dan energi meningkat.
Pertama, pandemi Covid-19. Corona memang sudah mereda. Namun, secara analisis perekonomian, wabah tersebut menyebabkan semua aktivitas ekonomi dan sosial berhenti. Permintaan berangsur pulih dari konsumen, namun belum disambut memadai oleh sisi
supply.
“Hal itu terjadi karena kecepatan demand tidak dapat diimbangi oleh faktor produksi di industri, karena masih terhambat akibat terhentinya produksi karena pandemi,” kata Eisha dalam diskusi Continuum INDEF, Kamis (14/4/2022).
Baca juga: Gus Baha ungkap Alasan mengapa Umat Islam Harus Kaya RayaKedua, terjadi disrupsi
supply chain. Setelah pandemi terjadi
layoff shipping firm. Hal tersebut mengganggu distribusi barang di seluruh dunia. Akibatnya,
supply terhambat dan tidak memenuhi permintaan pasar barang dan jasa yang mulai berangsur pulih.
Ditambah lagi, saat ini terjadi perang Rusia-Ukraina. Peristiwa itu langsung mendorong kenaikan harga minyak bumi. Di atas 100 USD Per barel. Begitu pula harga komoditas yang lain seperti CPO, Batubara, nikel, dan kakao.
“Rusia dan Ukraina adalah produsen terbesar gandum dunia, oil, metal nikel dan batubara serta bahan baku
fertilizer. Perang mengakibatkan harga komoditas-komoditas penting tersebut naik tinggi,” tutur Eisha.
Eisha menjelaskan, kenaikan harga mengakibatkan inflasi tinggi yang berdampak pada beban harga produksi pada industri menjadi meningkat. Di antaranya kenaikan harga listrik, LPG, dan BBM.
Cost structure yang meningkat akan menyebabkan harga produk akhir juga meningkat. Itu dapat mendorong inflasi. Daya beli konsumen juga otomatis akan menurun.
Baca juga: Sikap Mandiri dalam Islam, Ini Harapan Rasul terhadap Umatnya“Ketika
cost structure naik,
appetite untuk berinvestasi kembali akan berkurang, karena modal industri menjadi terbatas. Ketika sisi konsumsi dan investasi, dua komponen pada pembentukan PDB terganggu, maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” ucap Eisha.
Eisha lalu menyarankan kepada pemerintah untuk memperhatikan bantalan sosial kepada masyarakat kurang mampu, terutama ketika terjadi
shock harga-harga. Subsidi berfungsi agar masyarakat tidak jatuh lebih dalam kepada kemiskinan.
“Meski itu artinya, subsidi pemerintah akan naik dan beban anggaran Pemerintah bertambah,” tutur Eisha.
(jqf)