Ekonom Didik J Rachbini menilai Indonesia sulit mengejar pertumbuhan 7-8 persen jika tetap inward looking. Perubahan menuju kebijakan outward looking dan orientasi ekspor dinilai menjadi kunci.
Rencana pemerintah untuk menetapkan pengemudi ojek online (ojol) sebagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memicu diskusi hangat di kalangan akademisi, ekonom, dan pemangku kepentingan.
INDEF menilai Bank Emas atau bullion bank menjadi peluang besar bagi perbankan syariah Indonesia. Bisnis emas tumbuh 78,6% menjadi Rp22,9 triliun, didukung inovasi SRIA dan Cash Waqf Linked Deposit (CWLD).
INDEF menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia hanya akan menjadi berkah jika didukung tata kelola yang baik, kelembagaan kuat, dan sistem politik ekonomi yang transparan.
INDEF memperingatkan risiko PHK dapat meningkat jika tekanan ekonomi global terus berlanjut. Kenaikan biaya produksi, harga energi, dan gangguan rantai pasok dinilai mengancam industri nasional.
Pencapaian Sustainable Development Goals Indonesia masih tertinggal di pilar lingkungan, dipengaruhi lemahnya political will, data terbatas, dan tantangan implementasi daerah.
BAZNAS RI dan INDEF resmi menjalin kerja sama melalui penandatanganan MoU di Universitas Paramadina. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat ekonomi syariah, menjadikan zakat sebagai instrumen pemberdayaan umat, serta mendorong riset dan inovasi kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Ekonomi syariah di Indonesia dinilai masih terjebak pada instrumen perbankan, zakat, dan sukuk. CSED INDEF menekankan perlunya strategi lintas sektor dan indikator makro agar ekonomi syariah benar-benar jadi agenda pembangunan nasional.
Ekonom Senior INDEF dan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian UNILA Prof Bustanul Arifin terpilih sebagai Presiden ASAE (Asian Society of Agricultural Economists) atau Asosiasi Ekonom Pertanian Asia untuk periode 2023-2026.
Menurut Nawir, inflasi USA masih 6 persen dan sangat jauh dari target tahunan yang 2 persen rata-rata. Jadi, The Fed tetap akan menaikkan suku bunga acuan meski tidak seagresif kenaikan sebelumnya pada 75 basis poin.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Prof Didin S Damanhuri, mengaku prihatin dengan oligarki yang ada di Indonesia karena semakin ofensif menguasai politik.