LANGIT7.ID, Jakarta - Ekonom senior
Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Dr M. Nawir Messi menilai, kecenderungan peningkatan ketidakpastian ekonomi global berpengaruh kepada nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah berpotensi melampui target APBN 2023 level Rp14.800 per dolar AS.
Menurut Nawir,
inflasi USA masih 6 persen dan sangat jauh dari target tahunan yang 2 persen rata-rata. Jadi, The Fed tetap akan menaikkan suku bunga acuan meski tidak seagresif kenaikan sebelumnya pada 75 basis poin.
"Diperkirakan awal tahun ini pada 25 dan maksimal 50 basis poin," kata Nawir dalam diskusi publik awal 2023 Indef yang diikuti Langit7.id, Kamis (5/1/2023).
Baca Juga: Prof Didin Damanhuri: Oligarki Ekonomi Makin Ofensif Kuasai PolitikPer Oktober–November 2022, lanjut Nawir, tercatat sudah 33 negara yang membatasi ekspor pangan. Hal itu meningkatkan harga pangan dunia. Jika produktivitas rendah, maka akan menjadi ancaman
krisis pangan pada 2023 yang jauh lebih besar di dalam negeri.
Sebagai konskuensi dari situasi global, ancamam barang-barang impor akan tetap jadi masalah. Di sisi lain, China tidak bisa diprediksi kapan bisa mencapai
zero Covid-19 yang telah mengganggu rantai pasok dunia.
"Tahun politik 2023-3024 di dalam negeri akan mengganggu fluktuasi harga-harga. Meski tahun ini inlfasi melandai, tetapi tetap akan ada tantangan inflasi lebih tinggi dari yang dicanangkan," ungkap Nawir.
Hal tersebut berdampak pada
nilai tukar rupiah, di mana ada risiko nilai tukar rupiah dapat melampaui target dalam APBN 2023 yang sebesar Rp14.800 per dolar AS. Risiko tersebut sudah terhadap pada tahun lalu yang mana nilai tukar rupiah berada di posisi RP15.737 per dolar AS pada akhir 2022 atau memiliki margin sebesar Rp1.387 dibanding target
APBN sebesar Rp14.350.
Baca Juga: Faisal Basri Prediksi PDB Indonesia Terus Melambat Sampai 2024"Nilai tukar tetap akan mengalami tekanan dari gonjang ganjing politik, juga aktor lain. Target nilai tukar di APBN agak jauh meleset dari target, yakni Rp1.387. Itu cukup besar bagi dunia usaha dan bagi APBN," lanjut Nawir menjelaskan.
Sementara itu, cadangan devisa relatif kecil dan terus menurun. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari intervensi BI yang sangat intensif dalam beberapa bulan terakhir, di mana ekspor terus meningkat, tetapi dana hasil ekspor tidak masuk ke Dalam Negeri.
"Singapura tiba-tiba jadi investor nomor satu. Itu dicurigai berasal dari dana orang Indonesia yang disimpan di Singapura, dan masuk ke Indonesia seolah-olah menjadi FDI," ucap Nawir.
"Hal buruk itu telah berlangsung belasan tahun dan pemerintah tidak mampu berbuat apa-apa. Sehingga hasil ekspor tidak masuk untuk memperkuat cadangan devisa," tutur Nawir.
Baca Juga:
MUI: Strategi Politik Ekonomi Bung Hatta Patut Diperjuangkan
Ancaman Krisis Ekonomi Bukan Dalih untuk Sabotase Agenda Demokrasi(gar)