home masjid

Polemik Toa Masjid, Pakar ITB: Bukan soal Adzan, tapi Energi Suara

Ahad, 17 April 2022 - 15:50 WIB
Polemik toa masjid. (Foto: Istimewa).
Penggunaan toa atau pengeras suara masjid beberapa kali menjadi polemik di tengah masyarakat. Alasannya, demi menjunjung tinggi nilai toleransi di tengah latar belakang keyakinan masyarakat yang berbeda.

Dosen dari Kelompok Keilmuwan Fisika Bangunan, Sugeng Joko Sarwono menjelaskan, sejatinya regulasi terkait pengaturan pengeras suara masjid sudah ada sejak 1978. Ketika regulasi ini dipublikasikan kembali ke publik, justru menuai banyak tanggapan dari berbagai pihak.

“Pada dasarnya, yang diatur bukan adzan, tetapi energi suara dari perangkat elektronik yang digunakan masjid terkait,” ujarnya dalam Webinar Dakwah Nyaman dengan Speaker Masjid yang Berkesan, dikutip dari laman ITB, Jumat (15/4/2022).

Adapun sumber suara sendiri memiliki tiga komponen, di antaranya energi kekerasan (dalam bentuk desibel), pitch (frekuensi), dan waktu.

Baca Juga: Terkesan Suara Adzan Selama Ramadhan, Wanita Ukraina ini Masuk Islam

Dalam hal ini, energi kekerasan (loudness) adalah hal yang paling sering dipermasalahkan, karena tidak sesuai dengan batas aman pendengaran.

"Regulasi imbauan pemerintah untuk memberikan solusi dari permasalahan ini dengan besar 100 desibel, yang diukur pada jarak 1 meter (batas maksimal pendengaran manusia 140 desibel," ungkapnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
toa masjid adzan suara adzan masjid
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya