LANGIT7.ID, Jakarta - Penggunaan toa atau
pengeras suara masjid beberapa kali menjadi polemik di tengah masyarakat. Alasannya, demi menjunjung tinggi nilai toleransi di tengah latar belakang keyakinan masyarakat yang berbeda.
Dosen dari Kelompok Keilmuwan Fisika Bangunan, Sugeng Joko Sarwono menjelaskan, sejatinya regulasi terkait pengaturan pengeras suara masjid sudah ada sejak 1978. Ketika regulasi ini dipublikasikan kembali ke publik, justru menuai banyak tanggapan dari berbagai pihak.
“Pada dasarnya, yang diatur bukan
adzan, tetapi energi suara dari perangkat elektronik yang digunakan masjid terkait,” ujarnya dalam Webinar Dakwah Nyaman dengan Speaker Masjid yang Berkesan, dikutip dari laman ITB, Jumat (15/4/2022).
Adapun sumber suara sendiri memiliki tiga komponen, di antaranya energi kekerasan (dalam bentuk desibel), pitch (frekuensi), dan waktu.
Baca Juga: Terkesan Suara Adzan Selama Ramadhan, Wanita Ukraina ini Masuk IslamDalam hal ini, energi kekerasan (loudness) adalah hal yang paling sering dipermasalahkan, karena tidak sesuai dengan batas aman pendengaran.
"Regulasi imbauan pemerintah untuk memberikan solusi dari permasalahan ini dengan besar 100 desibel, yang diukur pada jarak 1 meter (batas maksimal pendengaran manusia 140 desibel," ungkapnya.
Namun, pengukuran kekuatan ini tidak cukup dilakukan dengan mengandalkan telinga saja. Sebab, setiap orang memiliki kemampuan dengar yang berbeda-beda.
"Kuantitas pengeras suara juga perlu disesuaikan dengan bentuk ruangan masjid terkait. Bila pengeras suara diperlukan dalam ruangan, sebaiknya diarahkan ke bawah supaya terdengar jelas oleh para jemaah," ujarnya.
Sementara itu, Konsultan tata suara, Eep S. Maqdir mengatakan, waktu pemakaian pengeras suara juga perlu diperhatikan. Sebab, perambatan suara pada malam dan siang hari memiliki perbedaan yang signifikan.
"Saat sunyi malam, kekuatan loudness hendaknya diturunkan, begitu juga sebaliknya ketika siang hari," katanya.
Selain itu, pengetahuan para teknisi audio masjid juga harus mumpuni. Fitur pada pengeras suara yang umum digunakan kebanyakan masih sebatas bass dan treble.
Eep menyarankan agar fitur equalizer juga digunakan untuk mereduksi noise yang dikeluarkan. Perangkat tambahan berupa compressor juga disarankan karena bisa menekan suara menjadi lebih nyaman didengar ketika terlalu keras.
(bal)