Gus Nadir: Puasa dari Syahwat Kekuasaan
Jaja Suhana
Rabu, 20 April 2022 - 18:35 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Selain syahwat yang berupa naluri manusia seperti makanan, minuman dan seks, terdapat pula syahwat jenis lain yang mengintai, yakni syahwat kekuasaan. Terkenal adagium bahwa semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila ingin tahu karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash Australia, Nadirsyah Hosen menjelaskan puasa selalu diberi makna sebagai bagian dari solidaritas sosial, yaitu belajar merasakan kesengsaraan fakir miskin. Orang beriman berlatih merasakan penderitaan fakir miskin selama sebulan penuh dan umumnya lulus ujian tersebut.
Baca Juga:Menag: Spirit Al-Quran Bawa Indonesia Jadi Bangsa yang Harmoni
"Akan tetapi, kita boleh jadi gagal dalam ujian syahwat kekuasaan. Merasakan pedihnya penderitaan orang lain tidak ada artinya kalau kita gagal mengubah ketimpangan sosial yang ada. Fakir miskin Ramadhan tahun lalu, boleh jadi kini bertambah banyak jumlahnya," ujar Gus Nadir sapaan akrab Nadirsyah Hosen, dikutip dari laman resmi UIN Jakarta, Rabu (20/4/2022).
Gus Nadir mengungkapkan alih-alih membantu membantu fakir miskin keluar dari kemiskinan, orang-orang malah menjadikan kepedihan hidup mereka sebagai cara mendekatkan diri pada Tuhan di bulan Ramadhan. Tentu itu sebuah ironi.
"Itu sebabnya Ramadhan tidak hanya berisi menahan syahwat, tapi diwajibkan menolong fakir miskin lewat zakat fitrah. Namun tidak mungkin rasanya kita menghapus ketimpangan sosial hanya lewat beras 2-3 kilogram," ungkapnya.
Baca Juga:Mental Orang Bertakwa di Atas Rata-Rata Manusia Biasa
Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash Australia, Nadirsyah Hosen menjelaskan puasa selalu diberi makna sebagai bagian dari solidaritas sosial, yaitu belajar merasakan kesengsaraan fakir miskin. Orang beriman berlatih merasakan penderitaan fakir miskin selama sebulan penuh dan umumnya lulus ujian tersebut.
Baca Juga:Menag: Spirit Al-Quran Bawa Indonesia Jadi Bangsa yang Harmoni
"Akan tetapi, kita boleh jadi gagal dalam ujian syahwat kekuasaan. Merasakan pedihnya penderitaan orang lain tidak ada artinya kalau kita gagal mengubah ketimpangan sosial yang ada. Fakir miskin Ramadhan tahun lalu, boleh jadi kini bertambah banyak jumlahnya," ujar Gus Nadir sapaan akrab Nadirsyah Hosen, dikutip dari laman resmi UIN Jakarta, Rabu (20/4/2022).
Gus Nadir mengungkapkan alih-alih membantu membantu fakir miskin keluar dari kemiskinan, orang-orang malah menjadikan kepedihan hidup mereka sebagai cara mendekatkan diri pada Tuhan di bulan Ramadhan. Tentu itu sebuah ironi.
"Itu sebabnya Ramadhan tidak hanya berisi menahan syahwat, tapi diwajibkan menolong fakir miskin lewat zakat fitrah. Namun tidak mungkin rasanya kita menghapus ketimpangan sosial hanya lewat beras 2-3 kilogram," ungkapnya.
Baca Juga:Mental Orang Bertakwa di Atas Rata-Rata Manusia Biasa