Ubah Sungai Kotor Jadi Lahan Produktif, Mbah Bagong Bikin Watergong
Mahmuda attar hussein
Senin, 23 Mei 2022 - 13:30 WIB
Ubah Sungai Kotor Jadi Lahan Produktif, Mbah Bagong Bikin Watergong. (Foto: Istimewa).
Seorang muslim asal Klaten Bagong Margono mengubah sungai kotor tempat pembuangan sampah menjadi lahan produktif. Dia merogoh kocek hampir Rp3 miliar untuk revitalisasi.
Mbah Bagong, sapaan akrabnya tergerak melakukan kegiatan sosial karena risih tinggal di lingkungan kotor. Apalagi sedari kecil, sudah dididik orangtuanya untuk mencintai alam.
"Saya terinspirasi bahwa lingkungan saya harus bersih, dan saya yakin kalau lingkungan saya bersih saya akan hidup nyaman," kata Mbah Bagong, Senin (23/5/2022).
Baca Juga: Desa Wisata Sungai Kupah Kembangkan Ekowisata Mangrove
Berkat kesadarannya itu, dia berhasil menyulap sungai yang terletak di Pusur, Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Klaten, itu menjadi bersih dan layak dihidupi ikan-ikan.
Pria berusia 65 tahun itu mengaku, merubah sungai menjadi bersih bukan perkara sulit. Namun, merubah perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai menjadi tantangannya.
"Akhirnya saya buat gerobak sampah di setiap rumah masyarakat, lalu saya ambil untuk diteruskan ke TPA. Sejak itu, karakter masyarakat berubah sendiri," katanya.
Mbah Bagong, sapaan akrabnya tergerak melakukan kegiatan sosial karena risih tinggal di lingkungan kotor. Apalagi sedari kecil, sudah dididik orangtuanya untuk mencintai alam.
"Saya terinspirasi bahwa lingkungan saya harus bersih, dan saya yakin kalau lingkungan saya bersih saya akan hidup nyaman," kata Mbah Bagong, Senin (23/5/2022).
Baca Juga: Desa Wisata Sungai Kupah Kembangkan Ekowisata Mangrove
Berkat kesadarannya itu, dia berhasil menyulap sungai yang terletak di Pusur, Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Klaten, itu menjadi bersih dan layak dihidupi ikan-ikan.
Pria berusia 65 tahun itu mengaku, merubah sungai menjadi bersih bukan perkara sulit. Namun, merubah perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai menjadi tantangannya.
"Akhirnya saya buat gerobak sampah di setiap rumah masyarakat, lalu saya ambil untuk diteruskan ke TPA. Sejak itu, karakter masyarakat berubah sendiri," katanya.