home edukasi & pesantren

122 Tahun Tebuireng, Berawal Bangunan Anyaman Bambu hingga Cerdaskan Kehidupan Bangsa

Selasa, 03 Agustus 2021 - 10:30 WIB
Hari lahir ke-122 Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (foto: Instagram/tebuireng.online)
122 tahun yang lalu, tepat pada 26 Rabiul Awal 1317 H atau 3 Agustus 1899 M, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambu atau gedek berukuran 6 X 8 meter. Bangunan sederhana itu disekat menjadi dua bagian. Bagian belakang dijadikan tempat tinggal Kiai Hasyim bersama istrinya, Nyai Khodijah, dan bagian depan dijadikan tempat shalat (mushalla). Saat itu santri Tebuireng berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.

Namun siapa sangka, dari bangunan kecil dan sederhana itu, Pesantren Tebuireng mampu memiliki peran yang sangat signifikan, sejak awal berdirinya hingga sekarang. Peran itu dimulai dari perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI, perjuangan menyebarkan ajaran agama dan mencerdaskan kehidupan bangsa, pengembangan ekonomi masyarakat dan penguatan civil society. Dua tokoh Tebuireng, Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahid Hasyim, bahkan mendapat gelar pahlawan nasional.

Awal Mula Cahaya Muncul di Tebuireng

Tebuireng adalah nama sebuah pedukuhan yang termasuk wilayah administratif Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, berada pada kilometer 8 dari kota Jombang ke arah selatan. Nama pedukuhan seluas 25,311 hektar ini kemudian dijadikan nama pesantren yang didirikan oleh Kiai Hasyim.

Pada penghujung abad ke-19, banyak bermunculan pabrik-pabrik milik orang asing di sekitar Tebuireng. Memang menjanjikan secara ekonomi bagi masyarakat setempat, namun secara psikologis justeru merugikan. Mereka tidak terbiasa jadi buruh pabrik. Upah lebih banyak digunakan ke hal-hal bersifat konsumtif-hedonis. Budaya judi dan minum minuman keras pun menjadi tradisi.

Masyarakat setempat lalu gemar menjual tanah akibat ketergantungan pada pabrik. Kondisi itu diperparah dengan gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai agama. Kondisi itu membuat KH Hasyim prihatin. Beliau kemudian membeli sebidang tanah milik seorang dalang terkenal di dusun Tebuireng 3 Agustus 1899 M. Dari tanah itulah muncul Pesantren Tebuireng.

Kiai Hasyim Tak Dapat Sambutan Baik
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya