LANGIT7.ID - 122 tahun yang lalu, tepat pada 26 Rabiul Awal 1317 H atau 3 Agustus 1899 M, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambu atau gedek berukuran 6 X 8 meter. Bangunan sederhana itu disekat menjadi dua bagian. Bagian belakang dijadikan tempat tinggal Kiai Hasyim bersama istrinya, Nyai Khodijah, dan bagian depan dijadikan tempat shalat (mushalla). Saat itu santri Tebuireng berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.
Namun siapa sangka, dari bangunan kecil dan sederhana itu, Pesantren Tebuireng mampu memiliki peran yang sangat signifikan, sejak awal berdirinya hingga sekarang. Peran itu dimulai dari perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI, perjuangan menyebarkan ajaran agama dan mencerdaskan kehidupan bangsa, pengembangan ekonomi masyarakat dan penguatan
civil society. Dua tokoh Tebuireng, Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahid Hasyim, bahkan mendapat gelar pahlawan nasional.
Awal Mula Cahaya Muncul di TebuirengTebuireng adalah nama sebuah pedukuhan yang termasuk wilayah administratif Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, berada pada kilometer 8 dari kota Jombang ke arah selatan. Nama pedukuhan seluas 25,311 hektar ini kemudian dijadikan nama pesantren yang didirikan oleh Kiai Hasyim.
Pada penghujung abad ke-19, banyak bermunculan pabrik-pabrik milik orang asing di sekitar Tebuireng. Memang menjanjikan secara ekonomi bagi masyarakat setempat, namun secara psikologis justeru merugikan. Mereka tidak terbiasa jadi buruh pabrik. Upah lebih banyak digunakan ke hal-hal bersifat konsumtif-hedonis. Budaya judi dan minum minuman keras pun menjadi tradisi.
Masyarakat setempat lalu gemar menjual tanah akibat ketergantungan pada pabrik. Kondisi itu diperparah dengan gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai agama. Kondisi itu membuat KH Hasyim prihatin. Beliau kemudian membeli sebidang tanah milik seorang dalang terkenal di dusun Tebuireng 3 Agustus 1899 M. Dari tanah itulah muncul Pesantren Tebuireng.
Kiai Hasyim Tak Dapat Sambutan BaikPerjalanan dakwah memang tak selalu mulus. Sekelas KH Hasyim pun mendapat penolakan. Kehadiran beliau di Tebuireng tak langsung diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Banyak gangguan, fitnah, hingga ancaman silih berganti datang. Para santri tak luput dari sasaran. Mereka diteror. Ada yang melempar batu ke area pondok atau merobek dinding tratak. Santri kerap tidur bergerombol di tengah ruangan karena takut terkena tusukan benda tajam.
Gangguan juga dirasakan di luar pondok. Para santri kerap diancam agar meninggalkan Kiai Hasyim. Gangguan semacam itu berlangsung hingga dua setengah tahun, hingga santri bergantian jaga malam.
Saat gangguan kian menjadi-jadi, Kiai Hasyim lalu mengutus seorang santri untuk pergi ke Cirebon, Jawa Barat, guna menemui Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Panguragan, Kiai Samsuri Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet. Keempatnya merupakan sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih pencak silat dan kanuragan selama kurang lebih 8 bulan.
Santri punya bekal yang mumpuni. Mereka tak takut lagi saat mendapat gangguan dari luar. Bahkan, Kiai Hasyim juga kerap ronda malam. Ia sering beradu fisik dengan komplotan penjahat, namun diatasi dengan mudah. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian meminta diajari ilmu pencak silat dan bersedia menjadi pengikut Kiai Hasyim. Sejak saat itu Kiai Hasyim mulai diakui sebagai bapak, guru, sekaligus pemimpin masyarakat.
Selain dikenal memiliki ilmu pencak silat, Kiai Hasyim juga dikenal ahli di bidang pertanian, pertanahan, dan produktif dalam menulis. Ia menjadi figur yang amat dibutuhkan masyarakat sekitar yang rata-rata berprofesi sebagai petani.
Tebuireng Dulu dan KiniPerjuangan selalu berujung manis. Rintang memang menghalang, tapi tak surut darah juang. Demikian pula lika-liku KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Saat mendapat pengakuan dari masyarakat setempat, santri Tebuireng bertambah dan datang dari berbagai daerah, baik dari Jawa maupun dari Madura. Bermula pada 1899 hanya 28 santri, 1910 bertambah menjadi 200 orang, dan 10 tahun kemudian melonjak menjadi 2000-an santri. Bahkan ada santri dari Singapura dan Malaysia.
Mengalami perkembangan yang cukup pesat, pembangunan dan perluasan pesantren pun ditingkatkan. Termasuk peningkatan kegiatan pendidikan santri untuk menguasai kitab-kitab klasik (kitab kuning).
Dari Tebuireng, Kiai Hasyim memberikan bekal keilmuan yang mumpuni untuk mendirikan pesantren di daerah masing-masing. Ia aktif membantu mendirikan pesantren yang dikelola oleh para santrinya seperti Pesantren Lasem (Rembang, Jawa Tengah), Darul Ulum (Peterongan, Jombang), Mambaul Ma’arif (Denanyar, Jombang), Lirboyo (Kediri), Salafiyah-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Nurul Jadid (Paiton Probolinggo), dan lain sebagainya.
Sekitar 1942, kala Jepang menduduki Indonesia, jumlah kiai dan ulama di Pulau Jawa mencapai 25.000-an orang. Mereka rata-rata pernah menjadi santri di Tebuireng. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh Tebuireng dalam pengembangan dan penyebaran Islam di Jawa pada awal abad ke-20.
Pesantren Tebuireng pada masa Kiai Hasyim menjadi pusat pesantren di tanah Jawa. Saat Ramadhan, para kiai dari berbagai penjuru tanah Jawa dan Madura datang ke Tebuireng ikut berpuasa dan mengaji kitab Shahih Bukhari-Muslim.
Keberadaan Tebuireng berimplikasi pada perubahan sikap dan kebiasaan hidup masyarakat sekitar. Bahkan, Tebuireng tak hanya menjelma jadi pusat keagamaan, dari pesantren ini pula lahir ormas dan partai besar Islam. Misalnya Nahdlatul Ulama (NU), Masyumi (Majelis Syuro A’la Indonesia), Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), serta laskar-laskar perjuangan seperti Sabilillah, Hizbullah, dsb.
Pada awal berdiri, materi pelajaran yang diajarkan di Tebuireng hanya berupa materi keagamaan dengan sistem sorogan dan bandongan. Namun seiring perkembangan waktu, sistem pengajaran secara bertahap dibenahi, diantaranya dengan menambah kelas musyawaroh sebagai kelas tertinggi, lalu pengenalan sistem klasikal (madrasah) tahun 1919, kemudian pendirian madrasah yang di dalamnya diajarkan materi pengetahuan umum, tahun 1933.
Memasuki abad ke-20, Tebuireng menambah unit pendidikan, seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY, kini IKAHA). Sampai saat ini sudah ada Madrasah Diniyah, Madrasah Mu’allimin, dan Ma’had Aly. Ada pula uni penunjang seperti Unit Penerbitan Buku dan Majalah, Unit Koperasi, Unit Pengolahan Sampah, Poliklinik, Unit Penjamin Mutu, unit perpustakaan, dan lain sebagainya. Semua unit tersebut (selain UNHASY), merupakan ikon dari eksistensi Pesantren Tebuireng sekarang.
(Sumber: tebuireng online)(jqf)