Kisah Nyata Kuli Bangunan Bisa Naik Haji, Menabung Sejak Tahun 1980
Muhajirin
Jum'at, 10 Juni 2022 - 16:30 WIB
Mohammad Djaelani, kuli bangunan asal Madiun bisa pergi haji tahun ini (Dok Kemenag)
Niat dan kemauan yang kuat untuk naik haji, bisa mengalahkan kendala biaya. Itulah yang dialami Mohamad Djaelani, dia patut menjadi inspirasi bagi semua orang. Apalagi mereka yang ingin berangkat haji tapi tak punya biaya lebih.
Djaelanihanya seorang kuli bangunan yang rutin menabung demi bisa berangkat ke Tanah Suci.Perawakan nampak kecil saat tiba di koridor Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Rabu (8/6/2022). Meski begitu, dia sangat gesit dan bersemangat bersama jemaah haji lain. Tak ketinggalan aura bahagia terpancar jelas dari wajah keriputnya.
Djaelani tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 7 Embarkasi Surabaya, Jawa Timur. Ayah dari tiga orang putra asal Saradan Madiun itu tak menyangka doa yang selalu dilangitkan terwujud.
Hal paling mengejutkan, Djaelani bukan seorang kaya raya. Bukan pula pekerja kantoran yang mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan. Dia hanya mengumpulkan rupiah demi rupiah melalui tetesan keringat sebagai seorang kuli bangunan.
Baca Juga:Mantan Anak Punk Naik Haji, Fatchul: Niat Ingin Berubah Jadi Baik
"Saya ini orang miskin, tidak ada bayangan saat itu untuk bisa naik haji. Wong buat akan aja saya mesti susah payah jadi kuli bangunan," kata Djaelani dalam sebuah rilis pers yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Ditjen PHU Kemenag), Jumat (10/6/2022).
Djaelani mulai menabung sejak 1980 silam. Dia mengais rezeki di perantauan sebagai kuli bangunan. Meski tak ada penghasilan tetap, dia selalu menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabunganhaji.
Djaelanihanya seorang kuli bangunan yang rutin menabung demi bisa berangkat ke Tanah Suci.Perawakan nampak kecil saat tiba di koridor Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Rabu (8/6/2022). Meski begitu, dia sangat gesit dan bersemangat bersama jemaah haji lain. Tak ketinggalan aura bahagia terpancar jelas dari wajah keriputnya.
Djaelani tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 7 Embarkasi Surabaya, Jawa Timur. Ayah dari tiga orang putra asal Saradan Madiun itu tak menyangka doa yang selalu dilangitkan terwujud.
Hal paling mengejutkan, Djaelani bukan seorang kaya raya. Bukan pula pekerja kantoran yang mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan. Dia hanya mengumpulkan rupiah demi rupiah melalui tetesan keringat sebagai seorang kuli bangunan.
Baca Juga:Mantan Anak Punk Naik Haji, Fatchul: Niat Ingin Berubah Jadi Baik
"Saya ini orang miskin, tidak ada bayangan saat itu untuk bisa naik haji. Wong buat akan aja saya mesti susah payah jadi kuli bangunan," kata Djaelani dalam sebuah rilis pers yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Ditjen PHU Kemenag), Jumat (10/6/2022).
Djaelani mulai menabung sejak 1980 silam. Dia mengais rezeki di perantauan sebagai kuli bangunan. Meski tak ada penghasilan tetap, dia selalu menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabunganhaji.