home community

Komunitas Muslim Pertama di Afrika Selatan Kental dengan Budaya Indonesia

Rabu, 30 Juni 2021 - 17:41 WIB
Dua muslimah sedang minum kopi di Cape Town, Afrika Selatan. (foto: LANGIT7.ID/ iStock)
Afrika Selatan merupakan negara di bagian selatan benua Afrika yang mayoritas penduduknya beragama protestan. Islam disini menjadi agama minoritas. Hanya sekitar 1.045.000 orang atau 1,9% dari jumlah penduduk Afrika Selatan. Kebanyakan dari umat Muslim Afrika Selatan berasal dari ras campuran. Kendati begitu, Islam memberi warna tersendiri dan memiliki sejarah sangat penting di daerah tersebut.

Bahkan, pada Mei 2021 lalu, Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mengatakan, Islam memiliki sejarah yang kaya dan membanggakan di Afrika Selatan. Dia mengakui kontribusi komunitas Islam terhadap perang melawan apartheid, yang mengantarkan demokrasi pada 1994.

“Kami tahu bahwa komunitas ini membayar harga yang mahal untuk perlawanannya [terhadap apartheid] tetapi meskipun demikian, tetap berdiri teguh," kata Ramaphosa kepada para pemimpin komunitas Muslim Afrika Selatan di Athlone, Cape Town, seperti dilansir Anadolu Agency.

Di Cape Town, komunitas Islam banyak tinggal di daerah Bo Kaap dan Kampung Makassar. Di tempat ini terdapat beberapa makam penting para ulama penyebar agama Islam yang disebut Karamat. Ada sekitar 23 karamat di sekeliling Cape Town. Satu di antaranya yang sangat terkenal adalah makam Syekh Yusuf, seorang ulama besar, keponakan Raja Gowa yang di buang Belanda dan mendirikan Kampung Makassar. Ajaran yang disampaikan Syekh Yusuf bahkan diakui oleh Nelson Mandela, sekaligus menginspirasinya untuk membebaskan Afrika Selatan dari apartheid.

Maka tak heran jika komunitas Islam di Cape Down kental dengan nuansa dan budaya Indonesia. Beberapa kosa kata Indonesia dan makanan Indonesia pun kini masih eksis di Afrika Selatan. Sebanyak 20% penduduk kota ini adalah umat Muslim. Penduduk Afrika Selatan yang ada di sana kawin-mawin dan beranak-pinak, hingga terbentuklah komunitas Melayu di Cape Town yang kini menjadi ibukota Provinsi Western Cape. Bekas area pengasingan Syaikh Yusuf di Cape Town itulah yang menjadi kota kecil bernama Makassar.

Tak hanya itu, di kota seluas 28.85 km2 ini pun terdapat nama-nama jalan bernuansa Melayu, seperti Macassar Road, Kramat Road, atau Sheikh Yusuf Road. Nama Syekh Yusuf Al-Makasari pun sangat membekas bagi warga Afrika Selatan. Hingga kini beberapa kegiatan ritual dan tradisi keagamaan yang berasal dari tanah Melayu masih terus dipraktekkan seperti ratib (debus di Indonesia). Ritual ini berasal dari tanah Banten, di mana sebelum diasingkan ke Afrika Selatan, Syekh Yusuf pernah diasingkan ke daerah itu selama 20 tahun.

Kemudian, beberapa ritual dan praktek agama banyak menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa penamaan ritual itu seperti puasa, buka puasa, sembahyang, bang (adhan), abdas (wudhu). Kata-kata Bahasa Indonesia lain yang masuk dalam kosa kata lokal tapi tidak ada kaitannya dengan ritual antara lain jamban (wc), terima kasih, kuli, pisang dan roti.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
komunitas muslim
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya