Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 22 Juni 2026
home community detail berita

Komunitas Muslim Pertama di Afrika Selatan Kental dengan Budaya Indonesia

Muhajirin Rabu, 30 Juni 2021 - 17:41 WIB
Komunitas Muslim Pertama di Afrika Selatan Kental dengan Budaya Indonesia
Dua muslimah sedang minum kopi di Cape Town, Afrika Selatan. (foto: LANGIT7.ID/ iStock)
LANGIT7.ID - Afrika Selatan merupakan negara di bagian selatan benua Afrika yang mayoritas penduduknya beragama protestan. Islam disini menjadi agama minoritas. Hanya sekitar 1.045.000 orang atau 1,9% dari jumlah penduduk Afrika Selatan. Kebanyakan dari umat Muslim Afrika Selatan berasal dari ras campuran. Kendati begitu, Islam memberi warna tersendiri dan memiliki sejarah sangat penting di daerah tersebut.

Bahkan, pada Mei 2021 lalu, Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mengatakan, Islam memiliki sejarah yang kaya dan membanggakan di Afrika Selatan. Dia mengakui kontribusi komunitas Islam terhadap perang melawan apartheid, yang mengantarkan demokrasi pada 1994.

“Kami tahu bahwa komunitas ini membayar harga yang mahal untuk perlawanannya [terhadap apartheid] tetapi meskipun demikian, tetap berdiri teguh," kata Ramaphosa kepada para pemimpin komunitas Muslim Afrika Selatan di Athlone, Cape Town, seperti dilansir Anadolu Agency.

Di Cape Town, komunitas Islam banyak tinggal di daerah Bo Kaap dan Kampung Makassar. Di tempat ini terdapat beberapa makam penting para ulama penyebar agama Islam yang disebut Karamat. Ada sekitar 23 karamat di sekeliling Cape Town. Satu di antaranya yang sangat terkenal adalah makam Syekh Yusuf, seorang ulama besar, keponakan Raja Gowa yang di buang Belanda dan mendirikan Kampung Makassar. Ajaran yang disampaikan Syekh Yusuf bahkan diakui oleh Nelson Mandela, sekaligus menginspirasinya untuk membebaskan Afrika Selatan dari apartheid.

Maka tak heran jika komunitas Islam di Cape Down kental dengan nuansa dan budaya Indonesia. Beberapa kosa kata Indonesia dan makanan Indonesia pun kini masih eksis di Afrika Selatan. Sebanyak 20% penduduk kota ini adalah umat Muslim. Penduduk Afrika Selatan yang ada di sana kawin-mawin dan beranak-pinak, hingga terbentuklah komunitas Melayu di Cape Town yang kini menjadi ibukota Provinsi Western Cape. Bekas area pengasingan Syaikh Yusuf di Cape Town itulah yang menjadi kota kecil bernama Makassar.

Tak hanya itu, di kota seluas 28.85 km2 ini pun terdapat nama-nama jalan bernuansa Melayu, seperti Macassar Road, Kramat Road, atau Sheikh Yusuf Road. Nama Syekh Yusuf Al-Makasari pun sangat membekas bagi warga Afrika Selatan. Hingga kini beberapa kegiatan ritual dan tradisi keagamaan yang berasal dari tanah Melayu masih terus dipraktekkan seperti ratib (debus di Indonesia). Ritual ini berasal dari tanah Banten, di mana sebelum diasingkan ke Afrika Selatan, Syekh Yusuf pernah diasingkan ke daerah itu selama 20 tahun.

Kemudian, beberapa ritual dan praktek agama banyak menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa penamaan ritual itu seperti puasa, buka puasa, sembahyang, bang (adhan), abdas (wudhu). Kata-kata Bahasa Indonesia lain yang masuk dalam kosa kata lokal tapi tidak ada kaitannya dengan ritual antara lain jamban (wc), terima kasih, kuli, pisang dan roti.
Komunitas Muslim Pertama di Afrika Selatan Kental dengan Budaya Indonesia
"(Rumah di kampung muslim wilayah Bo Kaap, Cape Town Afrika Selatan di cat dengan warna-warni cerah. foto: LANGIT7.ID/ iStock)"

Komunitas Muslim Pertama di Afrika Selatan

Islam di Afrika Selatan sangat berkaitan dengan sejarah Indonesia. Pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 Belanda yang kala itu menjajah Afrika Selatan mengirim tahanan perang dan tahanan politik dari Indonesia untuk dipaksa bekerja dan diasingkan agar tak mengganggu upaya VOC menguasai Indonesia. Salah satu yang diasingkan ke Afrika Selatan adalah Tuang atau Syekh Yusuf. Ia diasingkan di sebuah lokasi di luar Cape Town bersama keluarga dan pengikutnya. Ternyata tempat pengasingan Tuang Yusuf malah menjadi tempat pertemuan orang-orang yang diasingkan oleh Belanda hingga terbentuk komunitas muslim pertama di Afrika Selatan.

Karya tulis “Islamic History and Civilisation in South Africa: The Impact of Colonialism, Apartheid, and Democracy” yang dilansir di laman www.awqafsa.org.za juga menyebutkan soal peran Syekh Yusuf dari Makassar atau Abidin Tadia Tjoessop yang datang pada 1694 sebagai tahanan politik. Ia bersama keluarganya tinggal di sebuah lahan pertanian di Zandvliet, sekitar 50 kilometer dari Cape Town. Di sinilah, Syekh Yusuf pertama kali membangun sebuah komunitas muslim.

Dalam perkembangannya, ada 12 imam dalam komunitas itu. Di antaranya Raja Tambora dari Jawa sebagai orang pertama menulis Alquran di Cape Town. Kemudian Tuan Guru Imam Abdullah Kadi Abdus Salaam yang mendorong pembangunan masjid pertama di Cape Town. Pada 1793, Imam Abdullah membangun sekolah Muslim pertama di Dorp Street, Bokaap, yang akhirnya menjadi bagian dari Masjid Al-Awwal, masjid pertama di Cape Town.

Hingga saat ini, nama Syekh Yusuf sangat membekas bagi warga Afrika Selatan. Nelson Mandela bahkan menyebut Yusuf sebagai “Putra Afrika, pejuang teladan kami”. Selain itu, sebagaimana diungkap Suryana Sudrajat dalam Ulama Pejuang dan Ulama Petualang: Belajar Kearifan dari Negeri Atas Angin (2006), Mandela juga menjadikan Syekh Yusuf insipirasi bagi perjuangan rakyat Afrika Selatan melawan apartheid (hlm. xiv).

Syekh Yusuf Al-Makasari wafat di Cape Town pada 23 Mei 1699. Atas permintaan Sultan Gowa, Abdul Jalil (1677-1709), jenazah Syekh Yusuf dipulangkan ke Makassar pada 1705. Kemudian jenazahnya dikebumikan di kompleks makam bangsawan di Lakiung yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Gowa.

Syekh Yusuf kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto atas nama pemerintah RI pada 7 Agustus 1995.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 22 Juni 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:58
Ashar
15:19
Maghrib
17:51
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan