Terlilit Utang Puluhan Tahun, Pasutri Asal Kediri Mampu Bangkit dari Usaha Kubah Masjid
Mahmuda attar hussein
Jum'at, 06 Agustus 2021 - 11:00 WIB
Ilustrasi bisnis kubah mesjid. Foto: Langit7/Istock
Sempat terlilit utang bank selama puluhan tahun, pasang suami-istri (pasutri) asal Kediri kini sukses dengan menjadi produsen kubah masjid. Perjuangan masa sulit mampu mengubah hidup mereka menjadi lebih dekat dengan agama.
Nama pasangan itu Wahyu Agus Ariadi dan Reni Rahmawati. Mereka pemilik PT Anugerah Kubah Indonesia, Kediri. Produsen pembuatan kubah masjid yang berkembang pesat dengan pendekatan agama dalam pengelolaannya.
Pasutri ini menerapkan beberapa peraturan di perusahaan mereka dengan berbasis ajaran Islam. Salah satunya mewajibkan seluruh karyawan menjalankan ibadah perintah agama di lingkungan perusahaan.
Menurut Reni, seluruh karyawannya berama Islam. Namun, dari pengamatannya , ternyata memang beberapa di antaranya belum taat untuk melakukan ibadah.
“Ada aturan tidak boleh merokok saat jam kerja, musik juga tidak boleh, karena sebelumnya nyetel musik kayak orang mantu. Sampai kemudian ada kebijakan untuk mewajibkan shalat Zhuhur dan Ashar berjamaah. Kami pemilik perusahaan punya tanggung jawab moral, agar mereka bisa melaksanakan shalat. Kalau lima waktu tidak bisa, setidaknya kita bantu dua waktu di pabrik dikerjakan,” jelasnya.
Walaupun mendapat penolakan cukup besar dari para pekerjanya, tapi Reni tetap konsisten dengan kebijakan tegas perusahaan. Bahkan jika dilanggar, perusahaan memberikan Surat Peringatan (SP).
“Ketika itu pertentangan cukup besar, karena mereka bilang perusahaan kok mengatur shalat, tapi kami tegas bahkan ketika tidak shalat kita SP. Pernah sekali waktu ada 15 pekerja yang tidak shalat. Kita panggil semua untuk buat pernyataan agar tidak mengulanginya lagi. Kami tegas, karena orang yang menegakkan shalat dia bisa menyelesaikan urusan pribadi dan pekerjaannya dengan baik,” ujarnya.
Nama pasangan itu Wahyu Agus Ariadi dan Reni Rahmawati. Mereka pemilik PT Anugerah Kubah Indonesia, Kediri. Produsen pembuatan kubah masjid yang berkembang pesat dengan pendekatan agama dalam pengelolaannya.
Pasutri ini menerapkan beberapa peraturan di perusahaan mereka dengan berbasis ajaran Islam. Salah satunya mewajibkan seluruh karyawan menjalankan ibadah perintah agama di lingkungan perusahaan.
Menurut Reni, seluruh karyawannya berama Islam. Namun, dari pengamatannya , ternyata memang beberapa di antaranya belum taat untuk melakukan ibadah.
“Ada aturan tidak boleh merokok saat jam kerja, musik juga tidak boleh, karena sebelumnya nyetel musik kayak orang mantu. Sampai kemudian ada kebijakan untuk mewajibkan shalat Zhuhur dan Ashar berjamaah. Kami pemilik perusahaan punya tanggung jawab moral, agar mereka bisa melaksanakan shalat. Kalau lima waktu tidak bisa, setidaknya kita bantu dua waktu di pabrik dikerjakan,” jelasnya.
Walaupun mendapat penolakan cukup besar dari para pekerjanya, tapi Reni tetap konsisten dengan kebijakan tegas perusahaan. Bahkan jika dilanggar, perusahaan memberikan Surat Peringatan (SP).
“Ketika itu pertentangan cukup besar, karena mereka bilang perusahaan kok mengatur shalat, tapi kami tegas bahkan ketika tidak shalat kita SP. Pernah sekali waktu ada 15 pekerja yang tidak shalat. Kita panggil semua untuk buat pernyataan agar tidak mengulanginya lagi. Kami tegas, karena orang yang menegakkan shalat dia bisa menyelesaikan urusan pribadi dan pekerjaannya dengan baik,” ujarnya.