I'm Hasyim Asy'ari
Redaksi
Sabtu, 07 Agustus 2021 - 10:22 WIB
Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari (foto: ikanumesir.id)
122 tahun lalu, pesantren Tebuireng lahir. Satu-satunya pondok pesantren yang tidak punya nama, “…Ulum, Al-Fulan, al-Anu.. “. Tebuireng itu nama pedukuhan yang kemudian menggelinding menjadi nama pesantren.
Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie
Hal demikian karena pendirinya seorang sufi pengamal faham dafn al-wujud milik Ibn Athaillah al-Sakandari, Shahib al-Hikam. Menutupi jati diri (mendhem jero) dan tak suka tenar. Persis seperti para Wali Songo yang namanya hilang ditelan nama desa di mana sang wali tinggal. Seperti Sunan Ampel, Derajat, Kudus, Gunung Jati dst.
Atau, sengaja tidak memproklamirkan lembaganya demi mengelabuhi penjajah yang sangat mencurigai santri sebagai sosok paling militan. Makanya, hingga berjalan kurang lebih tujuh tahun, pemerintah Hindia Belanda baru mau mengakuinya. Meski tak bernama, ya Tebuireng itu namanya.
Tepatnya, Tebuireng adalah kamp sekaligus pesantren atau pesantren sekaligus kamp. Pengajian kitab salaf yang istiqamah dengan santri yang semuanya sudah dewasa dan memahami keadaan. Pesantren ini membangun pendidikan, menggembleng anak bangsa dengan kurikulumnya sendiri sebelum NKRI lahir.
Acap kali pengajian kitab mendadak libur karena bunyi tembakan bertubi, pertanda penjajah geram terhadap gerilya misterius. Dan sang kiai sudah tahu, bahwa itu gaya jihad santrinya sendiri. Tebuireng, bahkan pernah dibom hingga dua kali dan bi idznillah selamat.
Sang Kiai itu adalah Hadlratus syaikh KHM Hasyim Asy’ari (HA), seorang ulama aktivis yang sangat peduli terhadap umat dan bukan seorang kiai yang hanya mengajar saja di dalam pesantrennya sendiri. Makanya yang diurus adalah organisasi, termasuk NU dan Masyumi.
Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie
Hal demikian karena pendirinya seorang sufi pengamal faham dafn al-wujud milik Ibn Athaillah al-Sakandari, Shahib al-Hikam. Menutupi jati diri (mendhem jero) dan tak suka tenar. Persis seperti para Wali Songo yang namanya hilang ditelan nama desa di mana sang wali tinggal. Seperti Sunan Ampel, Derajat, Kudus, Gunung Jati dst.
Atau, sengaja tidak memproklamirkan lembaganya demi mengelabuhi penjajah yang sangat mencurigai santri sebagai sosok paling militan. Makanya, hingga berjalan kurang lebih tujuh tahun, pemerintah Hindia Belanda baru mau mengakuinya. Meski tak bernama, ya Tebuireng itu namanya.
Tepatnya, Tebuireng adalah kamp sekaligus pesantren atau pesantren sekaligus kamp. Pengajian kitab salaf yang istiqamah dengan santri yang semuanya sudah dewasa dan memahami keadaan. Pesantren ini membangun pendidikan, menggembleng anak bangsa dengan kurikulumnya sendiri sebelum NKRI lahir.
Acap kali pengajian kitab mendadak libur karena bunyi tembakan bertubi, pertanda penjajah geram terhadap gerilya misterius. Dan sang kiai sudah tahu, bahwa itu gaya jihad santrinya sendiri. Tebuireng, bahkan pernah dibom hingga dua kali dan bi idznillah selamat.
Sang Kiai itu adalah Hadlratus syaikh KHM Hasyim Asy’ari (HA), seorang ulama aktivis yang sangat peduli terhadap umat dan bukan seorang kiai yang hanya mengajar saja di dalam pesantrennya sendiri. Makanya yang diurus adalah organisasi, termasuk NU dan Masyumi.