PAY, Wadah Para Pecinta Anak Yatim dan Kaum Dhuafa
Muhajirin
Kamis, 01 Juli 2021 - 13:38 WIB
Komunitas Pecinta Ana Yatim membagikan paket bantuan kepada anak-anak yatim. Foto: Facebook @pecintaanakyatim
Komunitas Pecinta Anak Yatim disingkat PAY terus berbenah diri dalam rangka membangun semangat berbagi dan membahagiakan anak yatim. Komunitas yang berdiri sejak 2010 tersebut kini berkembang menyasar golongan dhuafa.
Awal mula berdirinya, PAY hanyalah divisi sosial dari Koperasi BM Cengkareng Syariah Mandiri Jakarta Barat. Seiring berjalannya waktu, PAY berkembang dan kini menjadi komunitas dengan kegiatan yang lebih besar. Mereka terus bergerak membangun semangat berbagi tanpa birokrasi untuk membuat anak yatim dan dhuafa tersenyum.
Melansir laman resmi pecintaanakyatim.com, PAY fokus pada anak yatim dan dhuafa yang belum tersentuh pelayan sosial pemerintah maupun lembaga sosial lain. Langkah tersebut menjadi kritik atas birokrasi yang rumit di instansi sosial terkait. Komunitas dengan tagline let's pay and doit, Sahabat Berbagi Indonesia tersebut memiliki keunikan, yakni berfokus pada anak yatim dan dhuafa yang tidak dibina oleh panti. Pay mengklaim, masih banyak anak yatim dan dhuafa yang tak mendapatkan hak-hak sosialnya karena tidak memiliki kelengkapan administrasi.
Anak yatim dan dhuafa merupakan anugerah dari Allah SWT untuk manusia sebagai wasilah mendekatkan diri kepada-Nya. Atas dasar itu, PAY bergerak untuk menjadi wasilah atau penghubung antara para dermawan dengan anak yatim dan dhuafa.
Gerakan awal PAY dimotori oleh anak-anak muda dari alumni Gontor, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Jakarta, dan berbagai kampus lainnya. Mereka sudak berkecimpung aktif sejak 2006 dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah melalui wadah bernama BMT Cengkareng.
Sejarah Singkat Berdirinya PAY
PAY terinspirasi dari salah seorang investor BMT Cengkareng yang kala itu bekerja di Timur Tengah, tepatnya di Qatar. Investor tersebut rutin menyantuni dan mengasuh ratusan anak yatim di Bandung, Jawa Barat.
Awal mula berdirinya, PAY hanyalah divisi sosial dari Koperasi BM Cengkareng Syariah Mandiri Jakarta Barat. Seiring berjalannya waktu, PAY berkembang dan kini menjadi komunitas dengan kegiatan yang lebih besar. Mereka terus bergerak membangun semangat berbagi tanpa birokrasi untuk membuat anak yatim dan dhuafa tersenyum.
Melansir laman resmi pecintaanakyatim.com, PAY fokus pada anak yatim dan dhuafa yang belum tersentuh pelayan sosial pemerintah maupun lembaga sosial lain. Langkah tersebut menjadi kritik atas birokrasi yang rumit di instansi sosial terkait. Komunitas dengan tagline let's pay and doit, Sahabat Berbagi Indonesia tersebut memiliki keunikan, yakni berfokus pada anak yatim dan dhuafa yang tidak dibina oleh panti. Pay mengklaim, masih banyak anak yatim dan dhuafa yang tak mendapatkan hak-hak sosialnya karena tidak memiliki kelengkapan administrasi.
Anak yatim dan dhuafa merupakan anugerah dari Allah SWT untuk manusia sebagai wasilah mendekatkan diri kepada-Nya. Atas dasar itu, PAY bergerak untuk menjadi wasilah atau penghubung antara para dermawan dengan anak yatim dan dhuafa.
Gerakan awal PAY dimotori oleh anak-anak muda dari alumni Gontor, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Jakarta, dan berbagai kampus lainnya. Mereka sudak berkecimpung aktif sejak 2006 dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah melalui wadah bernama BMT Cengkareng.
Sejarah Singkat Berdirinya PAY
PAY terinspirasi dari salah seorang investor BMT Cengkareng yang kala itu bekerja di Timur Tengah, tepatnya di Qatar. Investor tersebut rutin menyantuni dan mengasuh ratusan anak yatim di Bandung, Jawa Barat.