LANGIT7.ID, Jakarta - Komunitas Pecinta Anak Yatim disingkat PAY terus berbenah diri dalam rangka membangun semangat berbagi dan membahagiakan anak yatim. Komunitas yang berdiri sejak 2010 tersebut kini berkembang menyasar golongan dhuafa.
Awal mula berdirinya, PAY hanyalah divisi sosial dari Koperasi BM Cengkareng Syariah Mandiri Jakarta Barat. Seiring berjalannya waktu, PAY berkembang dan kini menjadi komunitas dengan kegiatan yang lebih besar. Mereka terus bergerak membangun semangat berbagi tanpa birokrasi untuk membuat anak yatim dan dhuafa tersenyum.
Melansir laman resmi pecintaanakyatim.com, PAY fokus pada anak yatim dan dhuafa yang belum tersentuh pelayan sosial pemerintah maupun lembaga sosial lain. Langkah tersebut menjadi kritik atas birokrasi yang rumit di instansi sosial terkait. Komunitas dengan tagline let's pay and doit, Sahabat Berbagi Indonesia tersebut memiliki keunikan, yakni berfokus pada anak yatim dan dhuafa yang tidak dibina oleh panti. Pay mengklaim, masih banyak anak yatim dan dhuafa yang tak mendapatkan hak-hak sosialnya karena tidak memiliki kelengkapan administrasi.
Anak yatim dan dhuafa merupakan anugerah dari Allah SWT untuk manusia sebagai wasilah mendekatkan diri kepada-Nya. Atas dasar itu, PAY bergerak untuk menjadi wasilah atau penghubung antara para dermawan dengan anak yatim dan dhuafa.
Gerakan awal PAY dimotori oleh anak-anak muda dari alumni Gontor, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Jakarta, dan berbagai kampus lainnya. Mereka sudak berkecimpung aktif sejak 2006 dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah melalui wadah bernama BMT Cengkareng.
Sejarah Singkat Berdirinya PAYPAY terinspirasi dari salah seorang investor BMT Cengkareng yang kala itu bekerja di Timur Tengah, tepatnya di Qatar. Investor tersebut rutin menyantuni dan mengasuh ratusan anak yatim di Bandung, Jawa Barat.
Tindakan sang investor tersebut menginspirasi seorang anak muda bernama Nur Juli Zar untuk membuat
fan page di Facebook dengan tema PAY (Pecinta Anak Yatim) pada 2010.
Fan page tersebut bertujuan untuk membangun wacana semangat berbagi anak negeri melalui media Facebook.
Niat baik memang selalu membawa kebaikan. Seiring berjalannya waktu,
fan page tersebut ternyata mendapat respon baik dari masyarakat. Banyak yang membubuhkan tanda jempol dan mengikuti halaman tersebut. Para pengikut halaman PAY kerap menanyakan aksi nyata.
Rupanya pertanyaan itu menjadi tantangan bagi Nur Juli Zar. Ia tertantang untuk mengadakan tindakan nyata, bukan sekedar wacana. Kala itu, bersama BMT Cengkareng, ia membuat kegiatan-kegiatan sosial berupa santunan (charity). Setelah itu, ia mengunggah beberapa foto dekomentasi di halaman Facebook PAY. Ia berharap unggahan tersebut menjadi inspirasi para pengguna media sosial yang bergabung di halaman itu.
Unggahan itu tak hanya mendapat respon ‘like’ dari para pengikut halaman PAY. Banyak di antara mereka yang ingin ikut terlibat dalam aksi sosial yang diadakan, baik secara langsung terjun ke lapangan maupun dengan cara berdonasi.
Bermula dari wacana berbagi, kini menjadi gerakan dalam aksi nyata. PAY menjadi komunitas penyalur amanah dari para dermawan untuk anak-anak yatim maupun dhuafa. Tak ingin berhenti di tengah jalan, para penggagas komunitas tersebut kemudian mendirikan yayasan dengan nama Yayasan Pecinta Anak Yatim & Doeafa Indonesia Tercinta.
Hingga saat ini, komunitas tersebut mendapat dukungan dari ratusan relawan dari berbagai wilayah seperti Bengkulu, Jakarta, Bandung (Jawa Barat), Tasikmalaya (Jawa Barat), Solo (Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur), Surabaya (Jawa Timur), dan Samarinda (Kalimantan Timur)
PAY Aktif Membuat Kegiatan untuk Membahagiakan Anak YatimPAY menyadari bahwa Indonesia memiliki ratusan atau bahkan ribuan panti asuhan. Maka itu, komunitas tersebut berfokus pada anak-anak yatim dan dhuafa yang belum tersentuh oleh lembaga sosial pemerintah maupun swasta.
Mereka tak hanya berbagi bingkisan seperti sembako atau amplop uang tunai, PAY memiliki rumah belajar di berbagai titik di Jabodetabek. Mereka juga memiliki rumah belajar di Samarinda, Tasikmalaya, Malang, Surabaya, hingga Medan. Terdapat banyak kegiatan yang diadakan di rumah belajar tersebut, dibantu oleh para relawan setempat.
Salah satu yang menjadi kegiatan rutin mereka adalah bimbingan belajar (bimbel). Asumsi bahwa bimbel mahal dan hanya bisa dinikmat segelintir orang, dibantah oleh PAY. Anak yatim pun bisa menikmatinya dengan gratis. Dengan begitu, tidak ada lagi tembok antara mereka yang berada strata sosial tinggi dengan anak-anak yatim dalam hal pendidikan.
Selain fokus pada isu pendidikan, PAY juga kerap menggelar acara besar setiap tahun. Misalnya buka puasa bersama anak yatim saat ramadan dan idul qurban. Mereka juga menggelar acara saat tahun baru Islam bersama anak yatim. Semua acara tersebut digelar dengan harapan bisa menjadikan ajang berkumpul anak-anak yatim.
Mengutip akun instagram
@pecintanakyatim, mereka membagikan momen qurban pada Idul Adha tahun 2020. Kesuksesan qurban tersebut berkat dukungan 167 relawan, 43 orang yang berkurban melalui PAY, beserta ratusan donator. Acara yang mereka sebut #QURBANakbarPAY2020 berhasil menyalurkan 14 Ekor Sapi dan 14 Ekor domba/kambing untuk 2.484 penerima manfaat. Penerima manfaat tersebut tersebar di 18 Rumah Belajar se-Jabodetabek, 1 Kampung Mualaf dan 1 Desa Pelosok.
Laporan yang diunggah pada 16 Juni 2021 itu merupakan ajakan untuk para dermawan agar berkurban bersama PAY pada tahun ini. Apalagi di masa pandemi Covid-19, semua orang butuh makanan bergizi. Salah satunya bisa didapatkan dari hewan qurban tersebut.
Intinya, komunitas yang mengambil fokus mengayomi anak yatim patut mendapat dukungan dari semua pihak. Terlebih umat Islam. Tertulis dalam Al-Quran dan sunnah bahwa ada banyak keberkahan untuk mereka yang menyayangi anak yatim.
(asf)