Masjid Al-Alam Marunda Padukan Corak Islam dan Jawa Pesisir
Andi Muhammad
Senin, 18 Juli 2022 - 15:13 WIB
Masjid Al-Alam Marunda Jakarta Utara. Foto: Andi Muhammad.
Di tengah variasi corak masjid yang menampilkan desain modern dan kekinian, Masjid Al-Alam Marunda tetap mempertahankan arsitektur klasiknya. Masjid Al-Alam merupakan masjid tertua di Jakarta, pada tahun 1975 pemerintah provinsi DKI Jakarta menetapkan Masjid Al-Alam sebagai cagar budaya.
Keseluruhan bangunan masjid didominasi dengan perpaduan warna cokelat dan putih. Masjid dekat pantai Marunda ini berkapasitas sekitar 150 jemaah.
"Kira-kira sekitar 150 jemaah kalau digabungkan antara ruangan salat pria dan wanita," ujar pengurus harian masjid Kusnadi Ali Makruf saat ditemuiLangit7, Ahad (17/7/2022).
Baca Juga:Menelusuri Jejak Perjuangan Fatahillah di Masjid Al-Alam Marunda
Uniknya, jika ditelusuri lebih dalam, interior serta konsep bangunan Masjid Al-Alam belum pernah mengalami renovasi sedikit pun sejak berdiri abad ke-16. Arsitektur mempertahakan konsep perpaduan gaya Islam-Jawa Pesisir dan Moor (Ekletik).
Pada bangunan ruang salat, terdapat empat tiang penyangga, tembok bangunan berwarna putih juga sangat tebal. Pada langit-langit juga masih terdapat interior kayu-kayu berwarna cokelat.
Terdapat juga pendopo sebagai sarana pendukung guna menambah fasilitas masjid yang sebelumnya tidak ada dalam pembangunan masjid. "Itu (pendopo) buatan baru tahun 1997 buat para pengunjung wisata religi untuk beristirahat," jelas Kusnadi.
Keseluruhan bangunan masjid didominasi dengan perpaduan warna cokelat dan putih. Masjid dekat pantai Marunda ini berkapasitas sekitar 150 jemaah.
"Kira-kira sekitar 150 jemaah kalau digabungkan antara ruangan salat pria dan wanita," ujar pengurus harian masjid Kusnadi Ali Makruf saat ditemuiLangit7, Ahad (17/7/2022).
Baca Juga:Menelusuri Jejak Perjuangan Fatahillah di Masjid Al-Alam Marunda
Uniknya, jika ditelusuri lebih dalam, interior serta konsep bangunan Masjid Al-Alam belum pernah mengalami renovasi sedikit pun sejak berdiri abad ke-16. Arsitektur mempertahakan konsep perpaduan gaya Islam-Jawa Pesisir dan Moor (Ekletik).
Pada bangunan ruang salat, terdapat empat tiang penyangga, tembok bangunan berwarna putih juga sangat tebal. Pada langit-langit juga masih terdapat interior kayu-kayu berwarna cokelat.
Terdapat juga pendopo sebagai sarana pendukung guna menambah fasilitas masjid yang sebelumnya tidak ada dalam pembangunan masjid. "Itu (pendopo) buatan baru tahun 1997 buat para pengunjung wisata religi untuk beristirahat," jelas Kusnadi.