PM Mario Draghi Mundur, Presiden Italia Bubarkan Parlemen
Garry Talentedo Kesawa
Sabtu, 23 Juli 2022 - 20:22 WIB
Presiden Italia, Sergio Mattarella. (Foto: EPA)
Presiden Italia, Sergio Mattarella membubarkan parlemen pada Kamis 21 Juli 2022. Keputusan itu dilakukannya setelah Perdana Menteri Italia Mario Draghi mundur dari kursi jabatannya.
Dalam pidato singkat dari Istana Quirinale di Roma, Mattarella mengatakan keputusan membubarkan parlemen menjadi langkah tak terhindarkan menyusul situasi politik dalam 24 jam. "Ini pilihan terakhir yang mungkin, tetapi menjadi tak terelakkan mengingat situasi politik," kata Mattarella seperti dikutip dari CNN, Sabtu (23/7/2022).
Baca Juga:Joe Biden Positif Covid-19, Xi Jinping Turut Bersimpati
"Diskusi, pemungutan suara, dan cara pemungutan suara kemarin di Senat memperjelas hilangnya dukungan parlemen untuk pemerintah, dan tidak ada prospek membentuk mayoritas baru. Situasi tersebut membuat pembubaran kamar-kamar (parlemen) lebih awal tidak bisa dihindari," lanjutnya.
Menurut laporanAFP,Mattarella dikabarkan sudah menandatangani dekrit pembubaran parlemen untuk membuka jalan pemilihan umum baru. Menurut aturan konstitusi di Italia, pemilihan harus diadakan dalam waktu 70 hari atau kemungkinan pada akhir September.
"Periode yang kita lalui tidak memungkinkan adanya jeda dalam tindakan (pemerintah) yang diperlukan untuk melawan krisis ekonomi dan sosial, dan meningkatnya inflasi," ujar Mattarella.
Draghi mengundurkan diri pada Kamis pagi saat Italia menggelar pemungutan suara mosi tidak percaya terkait kebijakan untuk mengatasi biaya hidup yang kian melonjak. Dalam pemungutan suara tersebut, Draghi tak mendapatkan dukungan dari Gerakan Bintang Lima, salah satu partai di koalisi pemerintah.
Dalam pidato singkat dari Istana Quirinale di Roma, Mattarella mengatakan keputusan membubarkan parlemen menjadi langkah tak terhindarkan menyusul situasi politik dalam 24 jam. "Ini pilihan terakhir yang mungkin, tetapi menjadi tak terelakkan mengingat situasi politik," kata Mattarella seperti dikutip dari CNN, Sabtu (23/7/2022).
Baca Juga:Joe Biden Positif Covid-19, Xi Jinping Turut Bersimpati
"Diskusi, pemungutan suara, dan cara pemungutan suara kemarin di Senat memperjelas hilangnya dukungan parlemen untuk pemerintah, dan tidak ada prospek membentuk mayoritas baru. Situasi tersebut membuat pembubaran kamar-kamar (parlemen) lebih awal tidak bisa dihindari," lanjutnya.
Menurut laporanAFP,Mattarella dikabarkan sudah menandatangani dekrit pembubaran parlemen untuk membuka jalan pemilihan umum baru. Menurut aturan konstitusi di Italia, pemilihan harus diadakan dalam waktu 70 hari atau kemungkinan pada akhir September.
"Periode yang kita lalui tidak memungkinkan adanya jeda dalam tindakan (pemerintah) yang diperlukan untuk melawan krisis ekonomi dan sosial, dan meningkatnya inflasi," ujar Mattarella.
Draghi mengundurkan diri pada Kamis pagi saat Italia menggelar pemungutan suara mosi tidak percaya terkait kebijakan untuk mengatasi biaya hidup yang kian melonjak. Dalam pemungutan suara tersebut, Draghi tak mendapatkan dukungan dari Gerakan Bintang Lima, salah satu partai di koalisi pemerintah.