Mengenang KHR As’ad Syamsul Arifin, Ulama Pejuang yang Gemar Menulis Syair
Muhajirin
Kamis, 04 Agustus 2022 - 16:00 WIB
KHR Asad Syamsul Arifin (tengah) (Dok Mahad Aly Situbondo)
4 Agustus merupakan tanggal wafatnya ulama kharismatik asal Situbondo Jawa Timur, KH Raden As’ad Syamsul Arifin. Beliau wafat di usia yang amat senja, yakni pada 4 Agustus 1990 di Situbondo pada usia 93 tahun.
Selain Kiai besar, Kiai As’ad juga merupakan pahlawan nasional. Pria kelahiran Mekkah pada 1897 itu merupakan pengasuh kedua dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo di Situbondo, salah satu pesantren terbesr NU di Jawa bagian timur.
Bagi kalangan Nahdliyin, sosok Kiai As’ad adalah ulama yang amat berjasa untuk Nahdlatul Ulama (NU). Beliau adalah mediator berdirinya NU, membesarkan NU sehingga menjadi partai politik yang besar dan menempatkan NU pada posisi 3 pada pemilu 1955 serta mengembalikan NU ke Khittah 1926 dengan mengadakan muktamar NU ke-27 di Situbondo.
Beliau tidak hanya dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki wawasan keilmuan yang sangat luas. Dia pernah menulis kitab syair berbahasa Madura yang ditulis dengan huruf Arab.
Baca Juga:Syaikh Yasin Al-Fadani: Ulama Rujukan Hadits Sedunia, Dermawan Meski Tak Kaya
Mengutip situs resmi Pesantren Sukorejo, penulis buku biografi Kiai As’ad, Syamsul A Hasan mengungkapkan, sekitar 232 baris syair yang ditulis Kiai As’ad pada Ramadhan. Namun, tahunnya tak disebutkan.
Kiai As’ad menulis syair itu pada waktu liburan Ramadhan, saat santri lain pulang ke rumah masing-masing. Dalam kata pengantar kitab itu, putra Kiai As’ad, KHR Achmad Fawaid, memperkirakan syair tersebut ditulis pada 1992.
Selain Kiai besar, Kiai As’ad juga merupakan pahlawan nasional. Pria kelahiran Mekkah pada 1897 itu merupakan pengasuh kedua dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo di Situbondo, salah satu pesantren terbesr NU di Jawa bagian timur.
Bagi kalangan Nahdliyin, sosok Kiai As’ad adalah ulama yang amat berjasa untuk Nahdlatul Ulama (NU). Beliau adalah mediator berdirinya NU, membesarkan NU sehingga menjadi partai politik yang besar dan menempatkan NU pada posisi 3 pada pemilu 1955 serta mengembalikan NU ke Khittah 1926 dengan mengadakan muktamar NU ke-27 di Situbondo.
Beliau tidak hanya dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki wawasan keilmuan yang sangat luas. Dia pernah menulis kitab syair berbahasa Madura yang ditulis dengan huruf Arab.
Baca Juga:Syaikh Yasin Al-Fadani: Ulama Rujukan Hadits Sedunia, Dermawan Meski Tak Kaya
Mengutip situs resmi Pesantren Sukorejo, penulis buku biografi Kiai As’ad, Syamsul A Hasan mengungkapkan, sekitar 232 baris syair yang ditulis Kiai As’ad pada Ramadhan. Namun, tahunnya tak disebutkan.
Kiai As’ad menulis syair itu pada waktu liburan Ramadhan, saat santri lain pulang ke rumah masing-masing. Dalam kata pengantar kitab itu, putra Kiai As’ad, KHR Achmad Fawaid, memperkirakan syair tersebut ditulis pada 1992.