Rektor IPB Dukung KBPII Bentuk Konsorsium Ketahanan Pangan
Andi Muhammad
Selasa, 09 Agustus 2022 - 06:31 WIB
Rektor IPB University Prof Arif Satria (kedua dari kanan) mengapresiasi inisiatif KBPII yang telah menggagas Konsorsium Koperasi Ketahanan Pangan. Foto: Istimewa.
Rektor IPB University Prof Arif Satria mengapresiasi inisiatif Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) yang telah menggagas Konsorsium Koperasi Ketahanan Pangan.
Konsorsium Koperasi Ketahanan Pangan merupakan gabungan Komunitas Koperasi, Komunitas UMKM, Asosiasi Bumdesa, Organisasi perempuan, Organisasi Buruh, Asosaisi Pasar, Pedagang Kaki lima dan para aktivis Penggerak Pemberdayaan Ekonomi yang mendeklarasikan tekad membangun jejaring distribusi dan advokasi untuk kertersediaan pangan yang berkeadilan.
"Ini inisiatif masyarakat sipil yang bagus dan harus didukung, karena masalah pangan meski ditangani semua pihak, bukan hanya pemerintah saja," ujar Arif Satria dalam keterangannya usai menjadi pembicara dalam Konferensi Ketahanan Pangan yang diselenggarakan Koperasi KBPII baru-baru ini.
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Musilim Indonesia (ICMI) Pusat ini menekankan bahwa persoalan pangan adalah persoalan food loss dan food waste, yaitu pangan yang tercecer dan pangan yang terbuang. Menurut dia, sepertiga pangan global tergolong food loss atau food waste, artinya banyak pangan yang tercecer dan terbuang.
Baca Juga:Pengembangan Lumbung Pangan, Indonesia Gandeng China hingga Belanda
"Indonesia merupakan kontributor terbesar kedua setelah Arab Saudi. Di dua negara Islam itu kontributor terbesar food loss dan food waste," ujarnya.
Dia merincikan, makanan yang tidak dihabiskan menjadi food waste, kontribusinya sembilan persen. Kemudian saat panen, seperti panen padi, kontribusi tercecer 11 persen. Diangkut lagi tercecer lagi, di penggilingan padi tercecer lagi.
Konsorsium Koperasi Ketahanan Pangan merupakan gabungan Komunitas Koperasi, Komunitas UMKM, Asosiasi Bumdesa, Organisasi perempuan, Organisasi Buruh, Asosaisi Pasar, Pedagang Kaki lima dan para aktivis Penggerak Pemberdayaan Ekonomi yang mendeklarasikan tekad membangun jejaring distribusi dan advokasi untuk kertersediaan pangan yang berkeadilan.
"Ini inisiatif masyarakat sipil yang bagus dan harus didukung, karena masalah pangan meski ditangani semua pihak, bukan hanya pemerintah saja," ujar Arif Satria dalam keterangannya usai menjadi pembicara dalam Konferensi Ketahanan Pangan yang diselenggarakan Koperasi KBPII baru-baru ini.
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Musilim Indonesia (ICMI) Pusat ini menekankan bahwa persoalan pangan adalah persoalan food loss dan food waste, yaitu pangan yang tercecer dan pangan yang terbuang. Menurut dia, sepertiga pangan global tergolong food loss atau food waste, artinya banyak pangan yang tercecer dan terbuang.
Baca Juga:Pengembangan Lumbung Pangan, Indonesia Gandeng China hingga Belanda
"Indonesia merupakan kontributor terbesar kedua setelah Arab Saudi. Di dua negara Islam itu kontributor terbesar food loss dan food waste," ujarnya.
Dia merincikan, makanan yang tidak dihabiskan menjadi food waste, kontribusinya sembilan persen. Kemudian saat panen, seperti panen padi, kontribusi tercecer 11 persen. Diangkut lagi tercecer lagi, di penggilingan padi tercecer lagi.