Pengamat Ekonomi: Kenaikan Harga BBM Bakal Menyulut Inflasi
Mahmuda attar hussein
Rabu, 24 Agustus 2022 - 13:50 WIB
Ilustrasi kenaikan BBM akan sebabkan inflasi. (Foto: Istimewa).
Pengamat ekonomi energi UGM, Fahmy Radhi menyebut, rencana kenaikan BBM bersubsidi bakal menyulut inflasi. Apalagi bila skema harganya sampai membenani masyarakat.
Kedua jenis BBM bersubsidi itu diperkirakan menyumbang inflasi hingga 1,97 persen. Dengan kontribusi Pertalite diperkirakan sebesar 0,93 persen dan Biosolar diperkirakan sebesar 1,04 persen.
"Padahal, inflasi pada Juli 2022 sudah mencapai 5,2 persen. Sehingga total inflasi akan mencapai 7,17 persen," ungkap dia dalam keterangannya, Rabu (24/8/2022).
Baca Juga: BBM Akan Naik, Berikut Daftar Harganya di Seluruh SPBU Indonesia
Menurutnya, angka itu akan memperburuk kondisi daya beli dan konsumsi masyarakat. Bahkan, bisa menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai dengan susah-payah dan naik mencapai angka 5,4 persen.
Inflasi sebesar 7,17 persen, lanjut dia, bakal berdampak pula pada naiknya harga kebutuhan pokok. Hal ini akan menambah beban rakyat, terutama masyarakat miskin.
“Dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo menyebutkan opsi kebijakan subsidi BBM adalah tidak memberatkan beban rakyat miskin. Itu mengisyaratkan bahwa Jokowi tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat ini karena taruhannya cukup besar," ujarnya.
Kedua jenis BBM bersubsidi itu diperkirakan menyumbang inflasi hingga 1,97 persen. Dengan kontribusi Pertalite diperkirakan sebesar 0,93 persen dan Biosolar diperkirakan sebesar 1,04 persen.
"Padahal, inflasi pada Juli 2022 sudah mencapai 5,2 persen. Sehingga total inflasi akan mencapai 7,17 persen," ungkap dia dalam keterangannya, Rabu (24/8/2022).
Baca Juga: BBM Akan Naik, Berikut Daftar Harganya di Seluruh SPBU Indonesia
Menurutnya, angka itu akan memperburuk kondisi daya beli dan konsumsi masyarakat. Bahkan, bisa menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai dengan susah-payah dan naik mencapai angka 5,4 persen.
Inflasi sebesar 7,17 persen, lanjut dia, bakal berdampak pula pada naiknya harga kebutuhan pokok. Hal ini akan menambah beban rakyat, terutama masyarakat miskin.
“Dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo menyebutkan opsi kebijakan subsidi BBM adalah tidak memberatkan beban rakyat miskin. Itu mengisyaratkan bahwa Jokowi tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat ini karena taruhannya cukup besar," ujarnya.