Hizbul Wathan: Pramuka Muhammadiyah Buah Tangan KH Ahmad Dahlan, Tempat Belajar Jenderal Sudirman
Muhajirin
Sabtu, 14 Agustus 2021 - 11:03 WIB
Hizbul Wathan tempo dulu (foto: gwh klaten)
Hari ini, 14 Agustus merupakan hari berdirinya kepanduan Indonesia yakni Praja Muda Karana atau Pramuka. Sebelum lahir Pramuka, tiap organisasi memiliki kepanduannya sendiri. Salah satunya adalah Muhammadiyah yang memiliki gerakan kepanduan bernama Hizbul Wathan.
Baca Juga:
Sejarah Hizbul Wathan bermula pada tahun 1916. Suatu hari, KH Ahmad Dahlan mendapat inspirasi saat mengikuti pengajian SAFT (Sidiq, Amanah, Fathonah, Tabligh) di Surakarta. Pengajian itu diadakan secara rutin di rumah KH Imam Mukhtar Bukhari. Ia takjub saat melihat anak-anak Javaansche Padvinder Organisatie (JPO) berpakain seragam sambil latihan baris-berbaris di halaman Mangkunegara.
JPO adalah organisasi kepanduan yang didirikan Mangkunegara VII pada 1916. Organisasi itu merupakan Organisasi Kepanduan pertama Indonesia yang menginspirasi kelahiran organisasi kepanduan di berbagai daerah di nusantara.
Rupanya, pengalaman KH Ahmad Dahlan di Surakarta sangat berkesan. Saat kembali ke Yogyakarta, ia menceritakan hal itu kepada beberapa muridnya, di antaranya Sumodirjo dan Sarbini. Di sela cerita tersebut, ia menyelipkan harapan agar pemuda Muhammadiyah membuat organisasi serupa untuk berbakti kepada kepada Allah Ta’ala.
“Alangkah baiknya kalau Muhammadiyah memiliki padvinder untuk mendidik anak-anak mudanya agar memiliki badan sehat serta jiwa yang luhur untuk mengabdi kepada Allah.” Kata KH Ahmad Dahlan kepada muridnya, dikutip laman suara Muhammadiyah.
Sumodirjo tak ingin mengecewakan gurunya. Keduanya pun mulai merintis organisasi Kepanduan di Muhammadiyah dengan berbagai varian kegiatan seperti baris-berbaris, olahraga, hingga pertolongan pertama pada kecelakaan.
Baca Juga:
Sejarah Hizbul Wathan bermula pada tahun 1916. Suatu hari, KH Ahmad Dahlan mendapat inspirasi saat mengikuti pengajian SAFT (Sidiq, Amanah, Fathonah, Tabligh) di Surakarta. Pengajian itu diadakan secara rutin di rumah KH Imam Mukhtar Bukhari. Ia takjub saat melihat anak-anak Javaansche Padvinder Organisatie (JPO) berpakain seragam sambil latihan baris-berbaris di halaman Mangkunegara.
JPO adalah organisasi kepanduan yang didirikan Mangkunegara VII pada 1916. Organisasi itu merupakan Organisasi Kepanduan pertama Indonesia yang menginspirasi kelahiran organisasi kepanduan di berbagai daerah di nusantara.
Rupanya, pengalaman KH Ahmad Dahlan di Surakarta sangat berkesan. Saat kembali ke Yogyakarta, ia menceritakan hal itu kepada beberapa muridnya, di antaranya Sumodirjo dan Sarbini. Di sela cerita tersebut, ia menyelipkan harapan agar pemuda Muhammadiyah membuat organisasi serupa untuk berbakti kepada kepada Allah Ta’ala.
“Alangkah baiknya kalau Muhammadiyah memiliki padvinder untuk mendidik anak-anak mudanya agar memiliki badan sehat serta jiwa yang luhur untuk mengabdi kepada Allah.” Kata KH Ahmad Dahlan kepada muridnya, dikutip laman suara Muhammadiyah.
Sumodirjo tak ingin mengecewakan gurunya. Keduanya pun mulai merintis organisasi Kepanduan di Muhammadiyah dengan berbagai varian kegiatan seperti baris-berbaris, olahraga, hingga pertolongan pertama pada kecelakaan.