Potret Mualaf di Pelosok Kalimantan, dari Tak Punya Alquran hingga Pakaian Ibadah (1)
Muhajirin
Senin, 05 Juli 2021 - 17:13 WIB
ilustrasi anak mengaji (foto: LANGIT7.ID/ iStock)
Kesejahteraan dan pemahaman ilmu agama para mualaf di pelosok Indonesia harus mendapat perhatian lebih. Perhatian terhadap mualaf tak sekedar membimbing bersyahadat, tapi ada tanggung jawab lebih guna membawa mereka ke dalam Islam yang utuh.
Ustaz Sultan Ma'ruf pembiana mualaf di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Berau, Kalimantan Timur mengatakan, pemahaman masyarakat terkait pengucapan syahadat bagi seorang mualaf merupakan tujuan akhir merupakan hal yang keliru. Ada proses yang lebih dari itu.
"Kami tidak semata-mata melakukan pembinaan di dalam masjid saja, karena rupanya dalam bentuk pembinaan dalam masjid saja tidak membuahkan hasil yang maksimal. Ternyata berdakwah itu, selain di dalam masjid, kita juga harus banyak berkoordinasi di luar masjid," kata Sultan saat berbincang dengan LANGIT7.ID melalui sambungan telepon, Kamis (1/7/2021).
Sultan membuktikan pernyataan tersebut dengan membuat komunitas Persatuan Mualaf Biatan Bapinang bersama 34 sahabatnya. Melalui komunitas itu, dia membimbing, menjaga, dan melindungi para muallaf.
Tidak bisa dipungkiri, banyak mualaf yang menghadapi ragam persoalan, mulai masalah keluarga hingga terhimpit masalah ekonomi. Maka itu, prosesi pembinaan mutlak dibutuhkan. Perlu ada mekanisme yang baku guna mempermudah mualaf untuk menjadi muslim seutuhnya.
Biatan Bapinang merupakan kampung dengan jumlah mualaf paling banyak. Maka itu, tak heran jika Sultan fokus membina para mualaf, baik secara ruhani, jasmani, maupun ekonomi.
Awal Mula Datang, Masjid Serupa Bangunan Tua nan Sepi
Ustaz Sultan Ma'ruf pembiana mualaf di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Berau, Kalimantan Timur mengatakan, pemahaman masyarakat terkait pengucapan syahadat bagi seorang mualaf merupakan tujuan akhir merupakan hal yang keliru. Ada proses yang lebih dari itu.
"Kami tidak semata-mata melakukan pembinaan di dalam masjid saja, karena rupanya dalam bentuk pembinaan dalam masjid saja tidak membuahkan hasil yang maksimal. Ternyata berdakwah itu, selain di dalam masjid, kita juga harus banyak berkoordinasi di luar masjid," kata Sultan saat berbincang dengan LANGIT7.ID melalui sambungan telepon, Kamis (1/7/2021).
Sultan membuktikan pernyataan tersebut dengan membuat komunitas Persatuan Mualaf Biatan Bapinang bersama 34 sahabatnya. Melalui komunitas itu, dia membimbing, menjaga, dan melindungi para muallaf.
Tidak bisa dipungkiri, banyak mualaf yang menghadapi ragam persoalan, mulai masalah keluarga hingga terhimpit masalah ekonomi. Maka itu, prosesi pembinaan mutlak dibutuhkan. Perlu ada mekanisme yang baku guna mempermudah mualaf untuk menjadi muslim seutuhnya.
Biatan Bapinang merupakan kampung dengan jumlah mualaf paling banyak. Maka itu, tak heran jika Sultan fokus membina para mualaf, baik secara ruhani, jasmani, maupun ekonomi.
Awal Mula Datang, Masjid Serupa Bangunan Tua nan Sepi