Keuntungan Budidaya Maggot, Alternatif Pengolahan Sampah Organik
Mahmuda attar
Ahad, 15 Agustus 2021 - 21:30 WIB
Ilustrasi budidaya magot. (Foto: Agromedia).
Maggot merupakan larva lalat black soldier fly (BSF) yang mampu menguraikan sampah organik dengan sangat cepat dalam jumlah besar. Budidaya maggot dianggap menjadi salah satu solusi untuk permasalahan pengelolaan sampah, khususnya sampah organik melalui proses penguraian secara alami.
Budidaya maggot kini juga memiliki nilai komersial yang cukup menguntungkan dari segi usaha. Maggot kerap menjadi pilihan bagi para peternak ikan dan unggas sebagai pakan ternak yang memiliki kandungan protein tinggi yang mempengaruhi pertumbuhan ternak semakin pesat dan baik.
Inilah yang membuat muslim asal Tangerang, Akbar Gumelar Syahputra untuk memanfaatkan peluang yang ada dari budidaya maggot. Selain mendapatkan keuntungan dari usaha budidaya maggotnya, ia juga turut membantu menguraikan sampah organik yang ada di Kabupaten Tangerang.
Bayangkan saja dari budidayanya ini, ia mampu mengolah sampah sekitar 10 ton setiap harinya. Dari situ pula ia mampu memanen maggot sekitar 500-600 kilogram per hari yang dipasarkan kepada peternak ikan dan unggas. Tempat usahanya ini dikelola di sebuah tempat bekas pabrik seluas satu hektar dan 2,5 hektar area tanah dan kolam.
“Awalnya, tempat budidaya ini adalah bekas pabrik cat yang sudah tidak terpakai. Sehingga kami manfaatkan di masa pandemi ini,” ujarnya dikanal Youtube agromaritim.
Bersama timnya, ia membangun usaha bernama Maggot Putra Tangerang yang saat ini telah menjadi bisnis yang menjanjikan dalam perkembangannya. Selama ini, budidaya maggot di Kabupaten Tangerang masih dalam bentuk skala kecil, sehingga ia mencoba peruntungannya untuk menjalankan bisnis budidaya maggot dalam skala yang lebih besar.
Di samping budidaya maggot yang memiliki nilai komersial, Akbar mengaku melalui bisnisnya ini juga merupakan salah satu upaya dalam mengurangi jumlah sampah yang ada, terutama sampah organik. Sebab, permasalah utama yang ada saat ini adalah penguraian sampah organik yang kerap kali belum dilakukan secara optimal.
Budidaya maggot kini juga memiliki nilai komersial yang cukup menguntungkan dari segi usaha. Maggot kerap menjadi pilihan bagi para peternak ikan dan unggas sebagai pakan ternak yang memiliki kandungan protein tinggi yang mempengaruhi pertumbuhan ternak semakin pesat dan baik.
Inilah yang membuat muslim asal Tangerang, Akbar Gumelar Syahputra untuk memanfaatkan peluang yang ada dari budidaya maggot. Selain mendapatkan keuntungan dari usaha budidaya maggotnya, ia juga turut membantu menguraikan sampah organik yang ada di Kabupaten Tangerang.
Bayangkan saja dari budidayanya ini, ia mampu mengolah sampah sekitar 10 ton setiap harinya. Dari situ pula ia mampu memanen maggot sekitar 500-600 kilogram per hari yang dipasarkan kepada peternak ikan dan unggas. Tempat usahanya ini dikelola di sebuah tempat bekas pabrik seluas satu hektar dan 2,5 hektar area tanah dan kolam.
“Awalnya, tempat budidaya ini adalah bekas pabrik cat yang sudah tidak terpakai. Sehingga kami manfaatkan di masa pandemi ini,” ujarnya dikanal Youtube agromaritim.
Bersama timnya, ia membangun usaha bernama Maggot Putra Tangerang yang saat ini telah menjadi bisnis yang menjanjikan dalam perkembangannya. Selama ini, budidaya maggot di Kabupaten Tangerang masih dalam bentuk skala kecil, sehingga ia mencoba peruntungannya untuk menjalankan bisnis budidaya maggot dalam skala yang lebih besar.
Di samping budidaya maggot yang memiliki nilai komersial, Akbar mengaku melalui bisnisnya ini juga merupakan salah satu upaya dalam mengurangi jumlah sampah yang ada, terutama sampah organik. Sebab, permasalah utama yang ada saat ini adalah penguraian sampah organik yang kerap kali belum dilakukan secara optimal.