Potret Fanatisme Aremania, Rela Patungan Demi Klub saat Arema FC Terpuruk
Muhajirin
Rabu, 05 Oktober 2022 - 18:31 WIB
Suporter Arema FC, Aremania (foto: istimewa)
Pengamat Sepak Bola, Sigit Nugroho, mengungkapkan fakta menarik tentang Aremania yang memiliki solidaritas tinggi terhadap klub. Aremania merupakan salah satu kelompok suporter yang berani mengeluarkan uang untuk membiayai Arema FC.
“Fanatisme Aremania itu sesungguhnya luar biasa. Tidak banyak suporter di dunia yang mau patungan ketika timnya ‘rusak’. Makanya ketika disampaikan suporter Aremania datang mengejar pemain Aremania, saya tidak yakin,” kata Sigit dalam webinar "Duka Sepak bola Tanah Air, Duka untuk Indonesia" yang digelar Partai Gelora, Rabu (5/10/2022) sore.
Baca Juga: Pengamat UGM: Suporter Sepak Bola Tidak Bisa Ditangani Secara Represif
Dia mencontohkan saat Arema FC dipimpin Gusnul Yakin. Kala itu, klub berjuluk Singo Edan itu tengah terpuruk. Bahkan, para pemain rela makan di warteg untuk menghemat pengeluaran klub. Gusnul Yakin bahkan rela dibayar sekarung beras demi melatih Arema FC.
“Setahu saya mereka ini orang yang solider. Ketika klubnya miskin, ini pernah terjadi di zaman Gusnul Yakin. Pemain itu semua makan di warteg, Aremania sampai patungan. Itu suporter patungan,” kata Sigit.
Fanatisme itu sangat luar biasa, kata Sigit. Hanya saja, fanatisme itu bisa berubah jadi negatif jika tidak ada persamaan persepsi dari aparat keamanan, panitia pelaksana (panpel), PSSI, dan PT LIB dalam hal pengamanan pengamanan sehingga tidak membawa petaka seperti tagedi Kanjuruhan.
“Fanatisme Aremania itu sesungguhnya luar biasa. Tidak banyak suporter di dunia yang mau patungan ketika timnya ‘rusak’. Makanya ketika disampaikan suporter Aremania datang mengejar pemain Aremania, saya tidak yakin,” kata Sigit dalam webinar "Duka Sepak bola Tanah Air, Duka untuk Indonesia" yang digelar Partai Gelora, Rabu (5/10/2022) sore.
Baca Juga: Pengamat UGM: Suporter Sepak Bola Tidak Bisa Ditangani Secara Represif
Dia mencontohkan saat Arema FC dipimpin Gusnul Yakin. Kala itu, klub berjuluk Singo Edan itu tengah terpuruk. Bahkan, para pemain rela makan di warteg untuk menghemat pengeluaran klub. Gusnul Yakin bahkan rela dibayar sekarung beras demi melatih Arema FC.
“Setahu saya mereka ini orang yang solider. Ketika klubnya miskin, ini pernah terjadi di zaman Gusnul Yakin. Pemain itu semua makan di warteg, Aremania sampai patungan. Itu suporter patungan,” kata Sigit.
Fanatisme itu sangat luar biasa, kata Sigit. Hanya saja, fanatisme itu bisa berubah jadi negatif jika tidak ada persamaan persepsi dari aparat keamanan, panitia pelaksana (panpel), PSSI, dan PT LIB dalam hal pengamanan pengamanan sehingga tidak membawa petaka seperti tagedi Kanjuruhan.