LANGIT7.ID, Yogyakarta - Pengamat Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada (UGM), Hempri Suyatna, menilai, suporter sepak bola memiliki karakteristik tersendiri. Suporter sepak bola memiliki karakter unik dan semangat fanatisme yang luar biasa.
Para suporter rela meluangkan waktu dan mengeluarkan uang serta tenaga demi mendukung tim kebanggaan mereka. Bahkan tidak jarang dari mereka harus menjual barang yang dimiliki agar dapat menonton tim kesayangan berlaga.
“Bagi mereka, sepak bola Adalah harga diri dan martabat daerah atau martabat bangsa,” kata Hempri, dikutip laman resmi UGM, Selasa (4/10/2022).
Baca Juga: 3 Sanksi PSSI untuk Arema FC, Tak Boleh Main di Kandang hingga Denda Rp250 Juta
Karakteristik suporter ini yang harus dipahami para pengelola sepakbola Tanah Air sampai PSSI dan aparat keamanan dari kepolisian. Para pemangku kepentingan bisa melihat karakteristik itu sebagai bahan pola-pola pengasuhan, penanganan, dan pengamanan suporter.
Maka itu, pendekatan persuasif harus diutamakan. Dia mencontohkan tragedi maut di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada Sabtu malam (1/10/2022). Seharusnya, aparat keamanan menggunakan pendekatan persuasif dalam melerai massa.
“Kasus di Kanjuruhan menunjukkan justru pendekatan represif yang dikedepankan. Penggunaan pentungan, penggunaan gas air mata yang sudah jelas dilarang FIFA ternyata justru masih digunakan,” kata Hempri.
Baca Juga: Legislator Sebut Kompetisi Sepak Bola Tidak Hanya Soal Bisnis Semata
Kasus di Kanjuruhan menjadi pelajaran berharga agar dimensi sosial suporter menjadi pertimbangan dalam melakukan penanganan di stadion. Dia meminta agar panitia pelaksana dan PSSI tidak sekadar mengejar keuntungan komersial dengan melupakan aspek-aspek sosial.
Dia menyebut, ada dua hal penting yang harus menjadi perhatian banyak pihak. Pertama, soal edukasi suporter dan pendekatan-pendekatan persuasif menjadi hal yang harus diutamakan.
Pemahaman terkait karakteristik, kultur, dan sejarah historis antarsuporter harus menjadi acuan dalam melakukan pengamanan. Bagaimanapun pola detail pengamanan antarklub akan berbeda.
Baca Juga: PSSI Ungkap Sebab Pintu Stadion Kanjuruhan Tertutup, Ini Pihak yang Bertanggung Jawab
“Kedua, perbaikan fasilitas infrastruktur pendukung. Bagaimana membangun stadion ramah anak, stadion ramah perempuan, stadion ramah lansia, dan sebagainya. Hal-hal semacam itu perlu dilakukan dan harus dikedepankan,” ujar Hempri.
(jqf)