home global news

Saran Psikolog untuk Tangani Korban Tragedi Kanjuruhan

Sabtu, 08 Oktober 2022 - 18:20 WIB
Duka pasca tragedi di Stadion Kanjuruhan (foto: istimewa)
Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII), Qurotul Uyun, mengulik perspektif psikologi peristiwa duka di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 lalu.

Dia mengatakan, situasi yang ramai di dalam stadion cenderung membuat para suporter lebih reaktif. Emosi dan identitas seseorang berubah jika berada di tengah kerumunan. Dari identitas individu menjadi identitas massa (kelompok).

Pola perilaku penonton yang reaktif itu timbul dari aspek beragam. Salah satunya, dipicu permasalahan yang ada di sekitar. Ada tindakan spontan dari beberapa penonton lalu diikuti beberapa penonton.

Aktivitas itu lalu direspon aparat keamanan dari kepolisian dengan represif berupa penembakan gas air mata. Qurotul menilai, tindakan penembakan gas air mata, komando yang minim, serta instruksi yang kurang jelas membuat psikologis penonton mengalami tekanan.

Baca Juga: 4 Tuntutan Persis Usai Tragedi Kanjuruhan, Minta Pertandingan Malam Ditiadakan

“Dalam ranah psikologi sosial, ketika ada pihak yang menggunakan senjata dalam situasi massa, hal itu bisa membuat penonton bingung dan panik,” kata Qurotul, dikutip laman resmi UII, Sabtu (8/10/2022).

Dia menjelaskan, saat terjebak dalam situasi genting, pengendalian diri menjadi teramat penting. Itu agar bisa membuat kondisi dan pikiran menjadi lebih tenang dalam bertindak.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
psikolog trauma healing tragedi kanjuruhan stadion kanjuruhan
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya