Merah Putih, Amanat Rasulullah SAW lewat Mimpi Habib Idrus Salim Al Jufri
Ajeng ritzki
Selasa, 17 Agustus 2021 - 05:00 WIB
Seorang anak sekolah mengibarkan Bendera Merah Putih di pantai untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia Foto: Langit7.id/Istock
Sejarah mencatat konsepsi Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah disiapkan para ulama jauh sebelum Indonesia merdeka. Ini dibuktikan dengan salah satu dokumen tahun 1783 hasil batsul masail di Masjid Baiturahman Aceh yang isinya bila Nusantara ini menjadi negara, maka namanya adalah Al Jumhuriyah Al Indonesia.
Kajian mengenai konsepsi NKRI tersebut pernah pula dibedah oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM-PBNU. Dalam kajian itu KH Adnan Anwar dari PBNU melacak berbagai dokumen dari Aceh sampai Pattani Thailand, bahkan ke perpustakaan Universitas Berlin menemui karya-karya Profesor Adolf Bastian.
Profesor Bastian (1826-1905) lewat bukutnya Indonesien oder die Inseln des Malayichen Archipels (1884) mempopulerkan istilah Indonesia di Barat pada akhir abad ke-19.
Padahal bila merujuk catatan Nusantara, nama Indonesia sudah ada pada tahun 1783 dan dibentuk oleh ulama-ulama di Aceh. NKRI tidak bisa dilepaskan dari nafas islami karena bangunan dan konsepsinya banyak melibatkan ulama.
Salah satu keterlibatan kuat yakni keberadaan Habib Idrus Salim Al Jufri, pendiri Al Khairaat di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Mbah Hasyim Asyari. Ia pernah menuturkan telah bermimpi berjumpa Nabi Muhammad SAW yang berpesan dalam mimpi bila nanti Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih. Mimpi itu lantas disampaikannya kepada Mbah Hasyim Asyari
Pesan Habib Idrus Salim Al Jufri dibawa hingga ke Muktamar NU tahun 1937 oleh Mbah Hasyim Asyari. Beliau mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Bendera Merah Putih dan Soekarno adalah pemimpinnya. Kisah ini menekankan bahwa Merah Putih bukanlah warna yang sembarang muncul.
Diketahui pula Guru Tua (Habib Idrus), begitu jamaah Al Khairaat menyebut, memiki kecintaan yang tinggi terhadap bangsa Indonesia. Beliau adalah kakek dari Habib Saggaf bin Muhammad Al Jufri.
Kajian mengenai konsepsi NKRI tersebut pernah pula dibedah oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM-PBNU. Dalam kajian itu KH Adnan Anwar dari PBNU melacak berbagai dokumen dari Aceh sampai Pattani Thailand, bahkan ke perpustakaan Universitas Berlin menemui karya-karya Profesor Adolf Bastian.
Profesor Bastian (1826-1905) lewat bukutnya Indonesien oder die Inseln des Malayichen Archipels (1884) mempopulerkan istilah Indonesia di Barat pada akhir abad ke-19.
Padahal bila merujuk catatan Nusantara, nama Indonesia sudah ada pada tahun 1783 dan dibentuk oleh ulama-ulama di Aceh. NKRI tidak bisa dilepaskan dari nafas islami karena bangunan dan konsepsinya banyak melibatkan ulama.
Salah satu keterlibatan kuat yakni keberadaan Habib Idrus Salim Al Jufri, pendiri Al Khairaat di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Mbah Hasyim Asyari. Ia pernah menuturkan telah bermimpi berjumpa Nabi Muhammad SAW yang berpesan dalam mimpi bila nanti Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih. Mimpi itu lantas disampaikannya kepada Mbah Hasyim Asyari
Pesan Habib Idrus Salim Al Jufri dibawa hingga ke Muktamar NU tahun 1937 oleh Mbah Hasyim Asyari. Beliau mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Bendera Merah Putih dan Soekarno adalah pemimpinnya. Kisah ini menekankan bahwa Merah Putih bukanlah warna yang sembarang muncul.
Diketahui pula Guru Tua (Habib Idrus), begitu jamaah Al Khairaat menyebut, memiki kecintaan yang tinggi terhadap bangsa Indonesia. Beliau adalah kakek dari Habib Saggaf bin Muhammad Al Jufri.