Kemenag: Tema Hari Santri 2022 Terinspirasi Pesan Historis Gus Dur
Garry Talentedo Kesawa
Rabu, 19 Oktober 2022 - 16:35 WIB
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Foto: Gusdur.net)
Kementerian Agama (Kemenag) mengungkapkan alasan pemilihan tema "Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan" dalam Peringatan Hari Santri 2022. Tema besar tersebut terinspirasi dari pesan-pesan historis dan filosofis KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani, mengatakan Gus Dur dalam setiap pemikiran dan gerakan, menempatkan aspek kemanusiaan sebagai perhatian utama. "Sebagai seorang santri dan ulama, beliau dikenal sangat toleran dan mengayomi semua umat karena selalu melihat manusia dari dimensi kemanusiaannya," kata Ramdhani di Jakarta, Rabu (19/10/2022).
Baca Juga:Peserta Upacara Hari Santri di Kemenag Gunakan Sarung dan Berpeci
Pria yang akrab disapa Dhani itu mengenang Gus Dur ketika menjabat Presiden RI ke-4 saat berpidato di acara Akhirussanah Pesantren Tegalrejo Magelang. Gus Dur bercerita bahwa sejak zaman Walisongo, warisan pesantren yang paling berharga adalah kecintaan kepada kemanusiaan.
"Di situ Gus Dur mengungkapkan, ilmu yang diperoleh semasa ngaji dengan KH Chudlori di Pesantren Tegalrejo adalah rasa kemanusiaan yang harus tumbuh pada diri kita," kenang Dhani.
Dhani menuturkan humanisme Gus Dur merujuk pada sikap pemuliaan yang tinggi atas manusia sebagai makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Adapun konsekuensi dari filosofi ini maka setiap manusia harus menjaga martabat kemanusiaan.
Baca Juga:Peringati Hari Santri, Wali Kota Magelang: Momentum Satukan Umat
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani, mengatakan Gus Dur dalam setiap pemikiran dan gerakan, menempatkan aspek kemanusiaan sebagai perhatian utama. "Sebagai seorang santri dan ulama, beliau dikenal sangat toleran dan mengayomi semua umat karena selalu melihat manusia dari dimensi kemanusiaannya," kata Ramdhani di Jakarta, Rabu (19/10/2022).
Baca Juga:Peserta Upacara Hari Santri di Kemenag Gunakan Sarung dan Berpeci
Pria yang akrab disapa Dhani itu mengenang Gus Dur ketika menjabat Presiden RI ke-4 saat berpidato di acara Akhirussanah Pesantren Tegalrejo Magelang. Gus Dur bercerita bahwa sejak zaman Walisongo, warisan pesantren yang paling berharga adalah kecintaan kepada kemanusiaan.
"Di situ Gus Dur mengungkapkan, ilmu yang diperoleh semasa ngaji dengan KH Chudlori di Pesantren Tegalrejo adalah rasa kemanusiaan yang harus tumbuh pada diri kita," kenang Dhani.
Dhani menuturkan humanisme Gus Dur merujuk pada sikap pemuliaan yang tinggi atas manusia sebagai makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Adapun konsekuensi dari filosofi ini maka setiap manusia harus menjaga martabat kemanusiaan.
Baca Juga:Peringati Hari Santri, Wali Kota Magelang: Momentum Satukan Umat