Pesantren Masyarakat Merapi-Merbabu, Didirikan Relawan untuk Dakwah Jangka Panjang
Muhajirin
Kamis, 27 Oktober 2022 - 17:30 WIB
Pesantren Masyarakat Merapi-Merbabu (Dok PM3)
Bermula dari tanggap darurat erupsi Merapi 2010, Relawan Masjid Indonesia melakukan pembinaan kepada dusun-dusun di lereng Merapi-Merbabu. Ada banyak tantangan dihadapi seperti keterbatasan sumber daya hingga kerawanan akidah.
“Kita Relawan Masjid Indonesia sebagai Lembaga awal kita, kita turun mencari lokasi terdampak erupsi yang belum tercover oleh Lembaga-lembaga kemanusiaan. Waktu itu di lereng selatan sampai lereng timur laut teman-teman dari lembaga kemanusiaan, banyak sudah turun,” kata Ustadz Salim A Fillah di kanal youtube-nya, dikutip Kamis (27/10/2022).
Lembaga kemanusiaan memang sudah banyak yang turun kala itu. Namun, mayoritas mereka fokus di dusun-dusun yang berdekatan dengan lereng gunung. Akhirnya, relawan Masjid Indonesia fokus ke dusun-dusun yang belum terjamah Lembaga kemanusiaan.
Relawan tiba di Kecamatan Sawangan dan Kecamatan Selok. Saat sampai di sana, relawan melihat warna dusun hanya hamparan debu. Abu-abu semua karena tertutup abu vulkanik. Kebun-kebun masyarakat rusak parah, hingga tidak bisa bercocok-tanam hingga enam sampai tujuh bulan ke depan.
Baca Juga: Sejarah Pesantren Langitan, Didirikan Murid Pangeran Diponegoro
“Kita Relawan Masjid Indonesia sebagai Lembaga awal kita, kita turun mencari lokasi terdampak erupsi yang belum tercover oleh Lembaga-lembaga kemanusiaan. Waktu itu di lereng selatan sampai lereng timur laut teman-teman dari lembaga kemanusiaan, banyak sudah turun,” kata Ustadz Salim A Fillah di kanal youtube-nya, dikutip Kamis (27/10/2022).
Lembaga kemanusiaan memang sudah banyak yang turun kala itu. Namun, mayoritas mereka fokus di dusun-dusun yang berdekatan dengan lereng gunung. Akhirnya, relawan Masjid Indonesia fokus ke dusun-dusun yang belum terjamah Lembaga kemanusiaan.
Relawan tiba di Kecamatan Sawangan dan Kecamatan Selok. Saat sampai di sana, relawan melihat warna dusun hanya hamparan debu. Abu-abu semua karena tertutup abu vulkanik. Kebun-kebun masyarakat rusak parah, hingga tidak bisa bercocok-tanam hingga enam sampai tujuh bulan ke depan.
Baca Juga: Sejarah Pesantren Langitan, Didirikan Murid Pangeran Diponegoro