Din Syamsuddin: Ketiadaan Perdamaian Masalah Paling Mendesak Diselesaikan
Fifiyanti Abdurahman
Selasa, 01 November 2022 - 09:02 WIB
Ilustrasi masyarakat dunia menuntut perdamaian dan menghentikan peperangan. Foto: LANGIT7/iStock
Chairman Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) Din Syamsuddin menyatakan masalah yang paling mendesak diselesaikan saat ini adalah ketiadaanperdamaian.
Menurut Din Syamsuddin, definisi ketiadaan perdamaian adalah adanya ketegangan dan konflik, sebab egosentrisme yang menonjol baik dari agama, bangsa, hingga politik.
"Ini berpangkal dari sistem dunia yang mendorong kerusakan-kerusakan seperti saat ini. Karena sistem dunia itu liberal dan sekuler, mendorong arus liberalisasi ekonomi, politik, dan budaya," ujar Din Syamsuddin di Jakarta, dikutip Selasa (1/11/2022).
Baca juga: Din Syamsuddin Harap Wasatiyat Islam Jadi Gerakan Global
Din melanjutkan, jalan keluar dari masalah tersebut yakni dengan mengubah sistem dunia.
"Inilah ambisi kita muslim dunia baru yang berbasis pada Human Fraternity and the Middle Path. Bisa nggak kita rumuskan menjadi ideologi dunia baru? Kalau saya optimistis, baik dari masyarakat maupun negara. Negara mesti terlibat. Kita punya modal dari Islam, dari Indonesia untuk mengarusutamakan," katanya.
Kemudian, Din juga menyinggung global injustice atau ketidakadilan global dan standar ganda sebagai masalah lain dari perdamaian dunia. Menurut Din, hal ini termasuk yang memicu ketiadaan perdamaian hingga kepada konflik bersenjata.
Menurut Din Syamsuddin, definisi ketiadaan perdamaian adalah adanya ketegangan dan konflik, sebab egosentrisme yang menonjol baik dari agama, bangsa, hingga politik.
"Ini berpangkal dari sistem dunia yang mendorong kerusakan-kerusakan seperti saat ini. Karena sistem dunia itu liberal dan sekuler, mendorong arus liberalisasi ekonomi, politik, dan budaya," ujar Din Syamsuddin di Jakarta, dikutip Selasa (1/11/2022).
Baca juga: Din Syamsuddin Harap Wasatiyat Islam Jadi Gerakan Global
Din melanjutkan, jalan keluar dari masalah tersebut yakni dengan mengubah sistem dunia.
"Inilah ambisi kita muslim dunia baru yang berbasis pada Human Fraternity and the Middle Path. Bisa nggak kita rumuskan menjadi ideologi dunia baru? Kalau saya optimistis, baik dari masyarakat maupun negara. Negara mesti terlibat. Kita punya modal dari Islam, dari Indonesia untuk mengarusutamakan," katanya.
Kemudian, Din juga menyinggung global injustice atau ketidakadilan global dan standar ganda sebagai masalah lain dari perdamaian dunia. Menurut Din, hal ini termasuk yang memicu ketiadaan perdamaian hingga kepada konflik bersenjata.