LANGIT7.ID - , Jakarta - Chairman Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC)
Din Syamsuddin menyatakan masalah yang paling mendesak diselesaikan saat ini adalah ketiadaan
perdamaian.
Menurut Din Syamsuddin, definisi ketiadaan perdamaian adalah adanya ketegangan dan konflik, sebab egosentrisme yang menonjol baik dari agama, bangsa, hingga politik.
"Ini berpangkal dari sistem dunia yang mendorong kerusakan-kerusakan seperti saat ini. Karena sistem dunia itu
liberal dan sekuler, mendorong arus liberalisasi ekonomi, politik, dan budaya," ujar Din Syamsuddin di Jakarta, dikutip Selasa (1/11/2022).
Baca juga: Din Syamsuddin Harap Wasatiyat Islam Jadi Gerakan GlobalDin melanjutkan, jalan keluar dari masalah tersebut yakni dengan mengubah sistem dunia.
"Inilah ambisi kita muslim dunia baru yang berbasis pada
Human Fraternity and the Middle Path. Bisa nggak kita rumuskan menjadi ideologi dunia baru? Kalau saya optimistis, baik dari masyarakat maupun negara. Negara mesti terlibat. Kita punya modal dari Islam, dari Indonesia untuk mengarusutamakan," katanya.
Kemudian, Din juga menyinggung
global injustice atau ketidakadilan global dan standar ganda sebagai masalah lain dari perdamaian dunia. Menurut Din, hal ini termasuk yang memicu ketiadaan perdamaian hingga kepada
konflik bersenjata.
"Harus muncul kelompok tokoh dunia yang menimbulkan ledakan dahsyat seperti Soekarno dan beberapa kanannya. Dulu gerakan
Asia Afrika, Soekarno dan lainnya untuk tingkat tertentu, berhasil gerakan non-blok itu," ucapnya.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa Indonesia harus ikut berperan aktif dan memiliki visi jauh ke depan. Karena itu, lanjut Din, pemimpin Indonesia harus
visioner atau memiliki visi global
kemanusiaan.
Baca juga: Din Syamsuddin Ajak Umat Lintas Agama Kolaborasi Bangun Peradaban Baru"Memiliki visi global kemanusiaan, nanti dengan posisinya sebagai kepala negara bisa menggerakkan. Seperti
Soekarno dulu. Indonesia tidak bisa diatur dengan visi picisan," pungkasnya.
(est)